Padahal di dalam dirinya, Estella justru muak. Tiap kali suara mobil Papinya terdengar di garasi, rumah ini berubah seolah panggung sandiwara. Maminya mendadak jadi istri penurut, penuh senyum palsu, dan semua orang berjalan di ujung kuku.Sambil merapikan gaun pastel yang dikenakannya, Lestari melangkah buru-buru ke arah pintu depan. Gerakannya anggun, tapi Stella tahu, itu bukan cinta, itu usaha mati-matian menjaga ketenangan.“Ya Tuhan, dimulai lagi,” gumam Stella lirih, menyandarkan diri di kursi. Ia memutar garpu di piring kosong, mencoba menekan debar tak nyaman di dadanya. Tapi begitu suara pintu depan terdengar terbuka, rasa ingin tahu dan takut berkelindan di dalam dada.Tak lama, suara lembut Maminya terdengar dari arah pintu, “Wal, ayo makan siang sama kami. Stella baru balik dari Semara
Last Updated : 2026-05-15 Read more