Ada kilatan terkejut di mata Aleksander, sebelum ia berkata, “Kalau begitu, kupastikan yang ini bakal jadi yang paling berkesan.” Nada suaranya sederhana, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat dada Evalia menghangat.Evalia tersenyum malu, lalu memalingkan wajah, pura-pura sibuk memperhatikan gemerlap lampu Jakarta di kejauhan.Angin kembali berhembus, membawa samar aroma parfum Aleksander. Evalia memejamkan mata sejenak, mengingatnya. Hangat mantel Aleksander, berat lengannya di pundak, dan suara napasnya yang stabil.Rasanya sempurna.Terlalu sempurna.Saat Evalia membuka mata lagi, ia mendapati Aleksander memiringkan kepala, masih menatapnya.“Apa? Kenapa
Last Updated : 2026-05-22 Read more