LOGINEvalia Wijaya dulunya pewaris sempurna keluarga Wijaya, hingga satu malam bersama musuh bebuyutan ayahnya merusak segalanya. Ia hamil, dicoret dari KK, dan hidup sebagai ibu tunggal mandiri. Bertahun kemudian, Aleksander Batubara, sang Mafia dan ayah kandung anak Evalia, mengetahui kebenarannya. Kini Alex menginginkan Eva dan putra mereka, sementara Eva masih ragu untuk mencintai pria yang merupakan musuh ayahnya.
View MoreMasa depan cemerlang Evalia Wijaya baru saja hancur karena satu gelas wiski. Setidaknya, itulah yang ia ingat malam itu.
Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Eva membayangkan langkah kecil menuju bar hotel akan menjadi awal kehancuran dirinya. Satu gelas. Satu tawa. Satu tatapan mata dari pria yang seharusnya menjadi musuh keluarganya. Dan kemudian, semuanya gelap.
Aleksander Batubara. Seorang konglomerat tampan berdarah batak dengan reputasi sebagai playboy yang tak pernah jauh dari sorotan media. Di depan kamera ia tampak seperti ahli bisnis Indonesia, sosok karismatik dalam jas hitam yang selalu tampak tenang. Tapi di balik semua cahaya itu, beredar cerita tentang amplop gelap, pelabuhan berdarah, dan nama-nama yang menghilang dengan rapi di minggu berikutnya.
Dan pagi ini…
Pria berbahaya itu terbaring di samping Eva, tertidur pulas, hanya setengah tubuh bagian bawahnya yang tertutup seprai putih, dadanya naik-turun lambat, tenang seperti binatang buas yang tertidur setelah puas menghabiskan mangsa buruannya.
“Gila kamu, Eva,” bisik Evalia pada dirinya sendiri. “Kamu gila. Gimana bisa kamu tidur sama dia?”
Tangannya gemetar ketika Eva mencoba bangkit dari tempat tidur. Rasa nyeri mendalam di antara pahanya terasa begitu asing. Menyakitkan sekaligus memalukan, seolah pengingat kejam kalau semua ini benar-benar terjadi.
Ketika pandangannya tertuju pada tubuhnya sendiri yang telanjang dan penuh bekas malam gila itu, hawa dingin seolah menjalar dari ujung rambut hingga kakinya.
Dengan langkah perlahan agar tak membangunkan Alex, Eva turun dari ranjang dan meraih pakaiannya yang berserakan di lantai lalu memakainya secepat mungkin. Setiap helai terasa seperti bukti dosa. Belum sempat meraih tasnya, ponsel Eva bergetar kencang. Ia tersentak, nyaris jatuh ke lantai karena terkejut.
Nama "Estella", terpampang jelas di layar.
“Kak, kamu di mana? Kok kamarmu kosong?” suara adik perempuannya itu terdengar panik
“Aku masih di sini,” Eva berbisik buru-buru, lalu melirik sekilas ke arah pria yang masih terlelap sebelum keluar dari kamar .
“Di mana? Maksudmu? Kamu masih di hotel itu?”
“Iya. Nanti aku jelasin.”
“Hotel Dharmawangsa? Kak, apa yang seb…”
Evalia langsung menutup sambungan telepon sebelum Estella bisa bertanya lebih jauh. Begitu membuka pintu, ia langsung tertegun.
Seorang pria bersetelan abu-abu berdiri di depan kamar, dengan tatapan kosong yang biasa dipakai pria yang sudah terbiasa melihat darah. Di telinganya terpasang earpiece hitam; dari pergelangan tangannya mencuat arloji berat yang tampak lebih cocok di tangan tentara.
“Apakah Pak Batubara masih di dalam?” tanya pria itu tanpa ekspresi.
“I-iya…” Evalia menjawab gugup, perlahan melebarkan pintu untuk memberikan akses pria itu bisa masuk. Namun, pria itu justru tidak bergerak.
“Perlu saya antarkan pulang, Nona?”
Dengan cepat, Eva langsung memberikan jawaban. “Nggak, terima kasih.”
“Yakin?”
Evalia hanya mengangguk. Kakinya melangkah cepat menuju lift, tanpa alas kaki, dengan satu stiletto di tangan. Bahkan tanpa menoleh pun ia tahu, mata pria itu masih menatapnya sampai pintu lift tertutup rapat.
♥♥♥
Begitu mobilnya berhenti di basement rumah, tubuh Eva hampir kehilangan keseimbangan melihat Stella berdiri di sana. Wajah adiknya tegang, tangan bersilang di dada, rambut acak-acakan dan mata penuh amarah.
Setelah pintu mobil terbuka, Stella langsung berbicara tanpa jeda.
“Ya ampun, Kak! Kamu tahu ini udah jam berapa? Sadar nggak sekarang hari apa?”
Eva menutup mobil perlahan, berusaha tetap tenang. “Senang melihatmu pagi-pagi begini, Stella,” ujarnya pelan sambil berjalan menuju pintu dalam rumah.
Kepalanya masih terasa berputar oleh ingatan di malam Tahun Baru kemarin. Sebuah pesta besar yang penuh dengan pejabat dan pengusaha kaya.
Eva mabuk berat. Terlalu mabuk hingga berakhir di ranjang dengan Aleksander Batubara, musuh bebuyutan ayahnya.
Memikirkannya saja sudah membuat wajah Eva panas. Wajah pria itu, dada bidangnya, senyum mematikannya… semuanya masih menempel jelas di otaknya.
Tapi tentu saja, tidak mungkin Eva menceritakannya pada Estella.
Stella mengikutinya dengan langkah cepat. “Jangan pura-pura tenang! Kamu itu kacau. Kamu tahu nggak..."
Eva menatapnya sejenak, dingin sekaligus lemah. “Aku mabuk, oke? Aku nginep di hotel itu karena mabuk,” ujar Eva sekenanya. “Ngomong-ngomong, Papi di mana?”
“Kamu benar-benar kacau, Kak,” gumam Stella dengan nada dramatis, menatap dengan pandangan horor.
“Kacau kenapa lagi?” Evalia menatap adiknya jengkel. “Kamu pikir hidupku ini sinetron?”
Stella menepuk dahinya sendiri dan menghela napas panjang. “Kamu lupa? Pagi ini kan harusnya kamu ikut Papi golf! Dia udah ngomel dari jam tujuh tadi. Aku harus pura-pura dengerin ceramahnya sambil ngolesin selai ke roti.”
“Hmm, kedengerannya menyenangkan,” gumam Evalia sarkas.
Eva menatap adiknya, tapi pikirannya melayang ke satu hal, golf bagi ayahnya bukan sekadar olahraga. Itu adalah medan perundingan. Di lapangan itu, kontrak besar ditandatangani, aliansi dibentuk, dan keputusan hidup atau mati untuk beberapa orang dibuat sambil menyesap kopi.
Eva lalu mengeluarkan ponsel dari tasnya dengan tujuan untuk menghubungi ayahnya, tapi Estella menahan tangannya.
“Tenang aja. Aku udah bilang ke Papi kalau Kakak lagi datang bulan dan nggak bisa bangun dari kasur. Jadi kamu berhutang besar padaku!” ujar Stella setengah berbisik sambil tersenyum puas.
Eva menatap adiknya lama. Senyum kecil muncul, lalu ia mencubit pipi adiknya lembut. “Kamu pembohong kecil yang manis. Untung aku sayang kamu. Nanti aku beliin tas desainer biar mulutmu berhenti ngoceh.”
“Deal!” jawab Stella cepat sambil memainkan rambutnya.
“Sekarang, biarkan aku membersihkan dosa semalam sebelum otakku meledak,” gumam Evalia sambil masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Tak membiarkan adiknya mengikuti masuk ke dalam.
Begitu kunci mengklik, kesunyian pecah. Punggungnya bersandar pada pintu. Pandangannya kosong, jatuh ke bayangannya sendiri di cermin besar. Semua di dalam dirinya terasa mati.
“Papi nggak boleh tahu,” bisik Eva pelan. “Papi nggak akan tahu."
Eva melangkah pelan menuju kamar mandi. Gaun hitamnya jatuh ke lantai. Cermin memantulkan tubuh yang masih menyimpan jejak semalam. Bekas ciuman samar di bahu, sedikit memar di pinggul.
“Kamu benar-benar gila, Eva! Kenapa harus dia? Kenapa Aleksander Batubara?” gumam Eva lirih, suaranya pecah antara amarah dan malu.
Eva menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Dia juga pasti mabuk… dia nggak akan ingat apa-apa,” lanjut Eva, seakan berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Eva menatap dirinya sendiri, berusaha menemukan perempuan kuat yang dulu selalu ia banggakan. Tapi yang ia lihat hanyalah bayangan seorang anak kecil yang tersesat dalam rasa bersalah
Malam itu juga, Eva bertekad untuk menghapus segalanya dari ingatan. Tak ada satu pun yang boleh tahu apa yang terjadi pada malam tahun baru itu. Tidak Papi, tidak Stella, tidak siapa pun. Ia akan melanjutkan hidup seperti biasa.
♥♥♥
Namun, takdir rupanya berkata lain.
Lima minggu berlalu. Hidupnya tampak normal. Eva tetap bekerja mengurus rapat dan laporan milik keluarganya, Wijaya Group. Berusaha menjalani kehidupan dengan normal.
Sampai suatu malam, satu hari sebelum makan malam keluarga bersama rekan bisnis ayahnya, keluarga Pradipta, Eva hanya bisa terduduk di kamar mandi. Kedua matanya menatap tak percaya pada alat uji kehamilan di matanya.
Dua garis merah muda.
“Aku…” suara Eva nyaris tidak keluar. “Aku hamil.”
Seluruh tubuhnya ambruk ke lantai.
Sejak malam gila bersama Aleksander Batubara itu, Evalia sama sekali tak pernah memikirkannya lagi. Ia benar-benar menghapus Alex dari pikirannya, mengubur dalam-dalam kenangan itu hingga ke sudut tergelap batinnya.
Namun dalam beberapa hari terakhir, Eva merasa seolah tubuhnya berperilaku aneh. Ketika menyadari bahwa haidnya sudah terlambat lebih dari dua minggu, rasa curiga barulah mulai menyelinap.
Dan baru malam ini, akhirnya Eva memberanikan diri untuk melakukan tes kehamilan.
Tangannya bergetar hebat. “Ya Tuhan… gimana ini…?”
Tangan Eva gemetar saat menatap dua garis merah muda di alat uji kehamilan di tangannya
Tok… tok…
Suara ketukan di pintu membuat Eva tersentak.
“Kak, masih di dalam? Makan malam udah siap. Kita semua nungguin kamu doang,” suara Estella terdengar dari balik pintu, terdengar sedikit tidak sabar.
Eva buru-buru menyembunyikan alat tes itu, napasnya terengah
“S… sebentar lagi aku keluar,” jawab Evalia dengan suara yang bergetar.
“Tenang saja, Estella,” ujar Jonathan dengan suara tetap kalem. “Saya nggak akan melakukan apa pun padamu.”Itu sama sekali tidak menenangkan. Namun Estella hanya menatapnya, bingung.Jonathan kembali duduk, meletakkan laptop di atas meja, lalu mulai mengetik cepat. Suara ketikan memenuhi ruangan.Tak lama, terdengar bunyi panggilan.Video call? Estella mengernyit. Dia menelepon siapa lagi?Belum sempat Estella bertanya, suara yang sangat familiar terdengar dari speaker.“Kak Eva?” Estella langsung mencondongkan
Hampir seluruh divisi keuangan berdiri di sana, menatap dengan mata membesar. Sebagian pura-pura sibuk. Beberapa lainnya mengangkat ponsel, setengah bersembunyi di balik map atau gelas kopi.Wajah Laras seketika pucat. “Kalian ngapain di sini?” bentaknya panik. “Balik kerja! Sekarang!”Tak seorang pun bergerak.Laras kehilangan kendali. Ia hanya bisa menatap mereka, terengah, campuran marah dan panik. “Hapus semua rekaman kalian!” hardiknya. “Kalau saya lihat satu saja foto atau video beredar, kalian semua saya pecat!”Kerumunan itu berguncang gelisah.Beberapa orang ragu-ragu, pura-pura menghapus sesuatu, tapi semuanya sudah terlambat. Setengah kantor sudah lebih dulu mengungga
Gedung Wijaya Group menjulang tinggi di tengah padanya kawasan bisnis Jakarta. Pagi itu, lalu lintas di Jalan Sudirman masih riuh oleh klakson dan deru mesin, sementara di dalam gedung, suasana justru terasa dingin dan terkontrol.Stella melangkah melewati pintu kaca otomatis. Suara hak sepatunya beradu tegas dengan lantai marmer yang mengilap, menggema pelan di lobi yang luas.Hari ini bukan hari kerja biasa.Hari ini adalah hari di mana Laras akhirnya harus membayar semuanya.Senyum tipis terukir di bibir Stella. Ia sudah bisa membayangkan wajah Laras, senyum palsu itu retak sedikit demi sedikit di bawah tekanan.“Ini bakal seru,” batin Estella.Ia masuk ke dalam lif
Kenangan tadi malam kembali terlintas, membuat jantung Evalia berdegup lebih cepat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Sudah, Evalia… bisa mati malu nanti,” bisiknya pada diri sendiri.Dengan pipi yang masih panas, Evalia membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu berdiri perlahan.Cahaya pagi Jakarta mengalir masuk melalui jendela besar. Evalia berjalan mendekat, membiarkan hangat matahari menyentuh kulitnya.Di luar, gedung-gedung tinggi berdiri megah di kejauhan, jalanan mulai ramai oleh kendaraan, dan langit pagi berwarna pucat keemasan. Pemandangan itu terasa hidup, kontras dengan ketenangan di dalam ruangan.Evalia menyentuh kaca jendela, berbisik pelan. “Jadi ini tempatmu selama ini… pantas saja kamu menyukainya, Aleksander.&rd
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.