Dinding kedap suara di ruang pertemuan sebelah tidak mampu meredam ketegangan yang pekat antara Nuri Vega dan Tomi Candra. Di dalam ruang kerja utamanya, Viko berdiri sembari mengusap pergelangan tangannya yang memar bekas cengkeraman anak buah Tomi. Sepasang matanya yang tajam menatap ke arah pintu kayu jati yang tertutup rapat, mencoba membaca draf pergerakan di balik sana. Sementara itu, di sudut dekat meja konter, Sandra masih bersimpuh dengan tubuh gemetar, meratapi kehancuran draf rencana besarnya yang kini berbalik menjadi petaka. Sepuluh menit berlalu seperti satu dekade penuh siksaan bagi mereka yang menunggu. Ketika pintu akhirnya terbuka, Tomi Candra melangkah keluar terlebih dahulu. Wajah paruh baya sang pejabat publik tidak lagi memerah karena amarah, melainkan pucat pasi dengan tatapan mata yang kosong, kehilangan seluruh keangkuhannya. Di belakangnya, Nuri Vega berjalan dengan langkah anggun yang teramat tenang, melipat kedua tangannya di depan dada dengan
Leer más