Sandra mendengus pelan mendengar permintaan Viko, namun kilat dominasi dan ketenangan yang memancar dari sepasang mata tajam pria itu justru membakar sesuatu yang lain di dalam dadanya. Ambisi dan gairah selalu menjadi bahan bakar yang serupa bagi Sandra. Ia meraih tas desainer miliknya, lalu berdiri dari kursi kafe sembari melempar sebuah kunci kartu elektronik ke atas meja kaca tepat di hadapan Viko. "Kamar 704, hotel butik di seberang jalan," ucap Sandra dengan suara yang mendadak merendah, sarat akan getaran provokatif. "Mari kita bicarakan langkah selanjutnya di tempat yang lebih privat, Viko. Anggap saja ini bagian dari bonus yang sangat kaudambakan." Viko melirik kartu magnetik itu, lalu menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia bangkit berdiri, meraih kartu tersebut, dan melangkah lebar mengikuti Sandra yang berjalan di depannya dengan pinggul yang berayun sengaja untuk memikat. Begitu pintu Kamar 704 tertutup rapat di b
Read more