"Selesai," desah Nuri, ia menyandarkan punggungnya dan menatap langit-langit dengan napas yang sedikit memburu. "Sekarang, kita terikat selamanya, Viko. Dalam dosa dan dalam takhta." Viko menutup laptopnya perlahan. "Kita sudah terikat sejak malam itu, Ma. Uang ini hanyalah pengikat formalnya." Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Viko kembali bergetar. Pesan dari tim IT-nya masuk. *Pesan: "Tuan, sinyal pengirim video tadi terlacak berada di area rumah sakit ini. Dan... pengirimnya menggunakan jaringan Wi-Fi internal milik keluarga Adam."* Rahang Viko mengeras. Pengkhianat itu ada di dekat mereka. Ia segera berdiri, membuat Nuri tersentak. "Ada apa, Viko?" "Tetaplah di sini, Ma. Jangan bicara pada siapapun, termasuk Stevani. Ada tikus yang harus aku tangkap," ujar Viko tanpa menoleh, ia melangkah cepat menuju lift. Viko menuju ke lantai atas, tempat ruang VIP keluarga berada. Di sana, ia melihat Inka sedang berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota dengan sebatang
آخر تحديث : 2026-04-18 اقرأ المزيد