Yang ingin Riana lakukan hanyalah melangkah maju. Hanya satu langkah dan semuanya akan berakhir. Tidak akan ada lagi rasa sakit, kesedihan, atau patah hati. Ia akan terbebas dari kegelapan abadi yang menenggelamkannya.Riana mendengar suara mobil di kejauhan, tetapi tidak menoleh. Ia masih tidak menoleh ketika sebuah pintu dibanting di belakangnya.“Apa yang kau lakukan, Riana?!!” Teriak Sean panik di belakang Riana.Riana tak menjawab, juga tidak menoleh bahkan ketika angin bertiup kencang. Riana merasakan kekuatan angin itu, seolah-olah angin itu juga mendesaknya untuk melangkah.“Riana, aku mohon. Jauhi tebing itu. Datanglah padaku...” Panggil Sean lagi, sambil berjalan mendekati Riana dengan hati-hati.Riana bisa merasakan kehadiran Sean saat dia perlahan mendekatinya, tetapi Riana tetap tidak mundur.Ia sudah sangat lelah, lelah menangis, lelah kesakitan, lelah dengan rasa sakit yang terus-menerus, sangat lelah berjuang. Rasa sakit itu tak pernah berhenti, selalu ada, seolah-olah
Read more