Sean tak bisa menjelaskan rasa takut yang ia rasakan saat melihat bajingan itu menodongkan pistol ke kepala Riana. Riana gemetar, dan air mata mengalir di wajahnya. Sean mendengar Riana memohon agar pria itu mengampuninya, tapi pria itu tidak akan melakukannya.Saat melihat Riana menutup matanya, seolah menerima nasibnya, itu hampir membuat tubuh Sean seketika lemas. Jika bukan karena ia tahu Riana lelah, ia pasti tidak akan mengampuni pria itu hanya agar bisa memberikan siksaan versi pribadinya sendiri.“Claudia butuh dokter, Sean.” Ucap Riana dengan suara kecil saat Sean berlutut di depannya.Sean tidak menjawab, ia sudah mengirim pesan pada Barra. Ambulans akan datang dalam beberapa menit. Bukannya ia tidak peduli pada Claudia, hanya saja ia lebih peduli pada Riana.Sean memegang wajah Riana dengan lembut. Pipinya bengkak, begitu juga matanya. Matanya sudah memar, dan bibirnya sedikit robek.Rahang Sean mengeras saat membayangkan seseorang memukul Riana.“Siapa yang memukulmu? Apa
Read more