"Hahaha, bisa saja kamu!" Azizah tertawa kecil, lalu suaranya merendah."Tapi tahu tidak? Abangku itu susah sekali menyukai perempuan. Aku tidak tahu kenapa, padahal dia tidak ada kurangnya. Mapan, tampan, dan sangat menjaga prinsip. Kadang aku merasa dia itu terlalu 'lurus'."Azizah kemudian menatapku lebih dalam, ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Zara, jujur padaku... apakah pria itu-sering datang ke hotelmu?"Aku terdiam sesaat. Aku memilin ujung gaun-ku, merasa terpojok oleh pertanyaan itu."Hmm... iya, Azizah. Dia beberapa kali datang.""Kalau kamu mau cerita, aku siap mendengar, Zara. Aku janji akan menjaga rahasia kita," ucap Azizah sambil memegang tanganku, memberikan rasa nyaman dengan gaya manjanya yang tulus."Dia hanya mengunjungiku, Azizah. Tidak ada hal lain yang aneh-aneh," dalihku, meski hatiku mencelos teringat kejadian kemarin sore.Azizah menghela napas panjang."Maafkan aku jika ini terdengar kasar, Zara. Tapi perempuan baik-baik sepertimu tidak pantas ber
Read More