Aku meronta pelan, namun akhirnya menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, mencoba menenangkanku. "Kenapa, Zara? Kenapa harus sejauh ini?" bisiknya. Setelah tangisanku mereda menjadi sesenggukan, Hafiz mengangkat daguku, menatap mataku dalam-dalam. "Apakah benar... kamu selama ini mencariku, Zara?" Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tatapanku menyiratkan rasa sakit dan rindu yang mendalam. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku terasa tercekat. Hafiz menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu aku mencintainya, tapi ia juga tahu konsekuensi dari cinta itu. "Kamu tau begitu pahitnya menjadi istri kedua, Zara?" Aku mendongakkan wajah, menatap lurus ke matanya. Dalam diamku, ada tatapan penuh tekad. "Aku siap, Hafiz. Aku siap apa saja, asal sama kamu." Hafiz menggelengkan kepalanya pelan, menolak ide gila itu. "Pulanglah ke Indonesia, Zara. Aku akan pikirka
Last Updated : 2026-04-04 Read more