Aku berjalan gontai ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat pasi, mataku bengkak dan merah. Aku menatap pantulan diriku sendiri, merasakan campuran antara rasa jijik dan kerinduan yang amat sangat pada sosok di cermin itu. Pikiranku melayang, teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. Bagaimana Hafiz selalu membawaku ke hotel, bagaimana ia mendominasi setiap gerak-gerikku, hingga aku merasa benar-benar hidup hanya saat bersamanya. "Apa yang aku lakukan?" bisikku pada cermin. Suaraku parau. "Aku bertingkah seperti orang gila." Tapi bayangan Hafiz terus muncul. Dialah yang memberiku warna, yang memberiku gairah yang tidak pernah kutemukan pada pria lain. Tanpa dia, duniaku terasa abu-abu. Di tempat lain, di sebuah rumah mewah di kawasan eksklusif, Hafiz sedang duduk di ruang kerjanya. Zuhra, istrinya, mengetuk pintu dan membawakannya teh hangat. "Hafiz, kamu baik-baik saja? Kamu tampak sangat lelah," tanya Zuhra dengan lembut. Hafiz menatapnya. Zuhra adalah wanita yang
Last Updated : 2026-04-04 Read more