Ruangan itu tampak remang, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu meja di sudut. Bayangan furnitur panjang menempel di dinding, membuat atmosfer terasa dingin dan penuh tekanan. Di balik jendela besar yang kacanya setengah buram, tampak dedaunan yang mulai berguguran—melingkar perlahan diterpa angin yang berembus. Musim seolah ikut bersekongkol, menciptakan nuansa muram yang sesuai dengan hati orang yang duduk di kursi kulit hitam itu.Pria itu menyandarkan punggungnya, satu kaki disilangkan santai. Asap tipis dari cerutu yang terbakar di antara jemarinya melayang, berbaur dengan aroma tajam wine merah dalam gelas kristal yang sesekali ia teguk. Seakan waktu berhenti, ia hanya menatap lurus ke luar, menikmati tarian daun yang jatuh satu per satu. Namun di meja kecil di sampingnya, ada sebuah ponsel yang sejak tadi tergeletak. Diam, dingin, tak berbunyi, tapi jelas sedang ditunggu.Jari-jarinya mengetuk lengan kursi, ritme tak sabar menyertai keheningan. Sesekali matanya melirik lay
Read more