LOGIN“Aku harap kita bisa bertemu lagi.” Daven menyejajarkan tingginya dengan Josh. Mata birunya menatap sang putra dengan sorot tak rela. Siapa yang ingin berpisah dari anaknya sendiri?
“Aku juga.” Josh tersenyum lebar. “Terima kasih sudah menunjukkan kantor Anda yang keren, Tuan Tampan.”
“Tentu saja. Jika kau ingin berkunjung lagi, aku selalu membukakan pintu ruang kerjaku selebar mungkin.”
Josh tertawa. Begitu matanya menangka
Althea berulang kali menatap ruangan yang masih tertutup rapat itu dengan perasaan gelisah. Waktu yang berlalu, Althea merasa sangat lambat. Kapan dia mendapatkan kabar mengenai kondisi putranya?“Dokter pasti akan melakukan yang terbaik, Althea,” kata Felicia berusaha menenangkan Althea. Yang sejak tadi wajahnya terus saja menunjukkan kegelisahannya.“Kau sudah mengatakan itu tiga kali, Felicia,” kata Althea sembari menghela pelan. “Aku tahu dokter pasti melakukan hal itu. Tapi tetap saja, aku takut.”Sejak tadi, Althea tak mendorongnya menjauh. Meski kata-katanya terdengar sinis dan tatapan yang dia berikan pada Felicia masih menunjukkan rasa tak suka, tapi Felicia berusaha memahami. Jika semua yang Althea lakukan karena ulahnya di masa lalu. Andai saja Felicia berada di posisi Althea, mungkin sejak tadi Felicia sudah diusir dengan perkataan dan makian yang terdengar menyakitkan.Tapi Althea tak melakukan itu.
“Tuan, pihak kepolisian yang menangani kasus kecelakaan Tuan Josh, sudah datang.”Daven juga Chase segera menoleh, menatap dua orang pria berseragam lengkap yang datang untuk mengetahui, bagaimana sebenarnya kecelakaan itu terjadi.“Jadi ... Anda bisa memberitahu kami, Tuan Polisi?” tanya Chase tak sabar.Polisi yang hadir di ruang tunggu bicara hati-hati. “Kami sudah memeriksa sopirnya. Pria itu meninggal di tempat. Hasil visum sementara menunjukkan ia terkena serangan jantung mendadak. Mobil kehilangan kendali saat dikemudikan olehnya. Jadi dugaan sementara, ini murni kecelakaan.”“Jadi maksud Anda,” suara Chase terdengar menahan amarah yang berusaha ditekan, “semua ini hanya kecelakaan biasa?”Polisi itu mengangguk, nada bicaranya tetap formal. “Benar, Tuan Miller. Sopir mobil mengalami serangan jantung mendadak. Kendaraan keluar jalur, dan—” ia melirik c
“Maaf jika kehadiranku mengganggumu,” Felicia segera bicara. Menyela Daven yang mungkin ingin menyapa Althea dan menanyakan kabar putranya. “Aku tak bermaksud apa pun.”Althea mengusap sisa air matanya. Tatapannya tak lagi sendu tapi tajam dan mengarah tepat pada Daven yang berada tak jauh darinya. “Apa maksud semua ini, Daven?”“Kumohon tenang dulu, Althea.” Daven menghela pelan. “Felicia tak memiliki niat apa pun. Dia ... “ Daven melirik ke arah Felicia dan menggeleng pelan. “Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Josh.”Bola mata Althea terbeliak tak percaya. “Jangan bilang kau ... memberitahunya?”“Tidak seperti itu,” sela Felicia cepat. “Aku tahu dari ibumu, Althea. Sungguh. Daven tak menceritakan apa pun mengenai Josh. Justru aku yang mendesaknya untuk mengatakan kebenaran yang sedang ia tutupi dengan banyak alasan yang masuk akal.”&ld
Sirene ambulans terus meraung, memecah kesunyian yang ada di sekitar gedung belakang rumah sakit. Pintu belakang kendaraan terbuka lebar, dan seketika bau obat-obatan, darah, dan ketegangan bercampur jadi satu.“Cepat! Pasien anak laki-laki, trauma kepala, banyak kehilangan darah!” teriak salah seorang paramedis sambil mendorong brankar ke luar.“Josh…!” suara Althea pecah. Dia segera membuka pintu mobil yang ditumpanginya. Mengejar tubuh sang anak yang terbaring tak berdaya. Ia tak peduli jika tubuhnya berlari menghampiri meski langkahnya oleng.Di atas brankar itu, tubuh kecil Josh terbaring lemah. Wajahnya pucat, pipinya masih ternodai darah, napasnya tak stabil meski masker oksigen menempel di wajahnya. Althea mendekap sisi brankar, tangannya gemetar saat membelai lengan putranya.“Josh… Mommy di sini, Nak. Kau dengar Mommy, kan? Tolong… buka matamu…” suaranya serak, hampir tak terdengar.
Mobil yang ditumpangi Althea melaju kencang di belakang ambulans. Matanya terus menatap jalan di depan. Tangannya saling meremas demi mengurangi rasa gelisah meski percuma. Pandangannya memburam lantaran air mata yang tak berhenti mengalir. Di sampingnya, seorang staf hotel mencoba menenangkannya.“Tidak bisakah kita lebih cepat lagi?” tanya Althea sembari mengusap air matanya. Matanya tak pernah teralih dari ambulans yang ada di depannya.“Kita akan segera sampai, Nyonya Althea.” Staf hotel sekali lagi berusaha untuk menenangkan Althea. Jika posisinya ditukar dengan wanita yang kini menangis di sampingnya, mungkin si staf juga akan meraung dan menangis histeris melihat anaknya terlibat kecelakaan yang cukup parah.“Astaga… Josh… bagaimana jika dia—” Althea menutup wajah dengan kedua tangannya. “Semua ini salahku. Aku seharusnya melarangnya pergi.”“Tenangkan diri Anda, Nyonya. Saya
“Kali ini ulah apalagi yang akan kau lakukan, Vanessa.”Kate menyalakan TV dan tanpa perlu mengganti channel, berita mengenai persidangan akhir putranya dan Vanessa muncul sebagai headline utama. Banyak wartawan menunggu bagaimana hasil sidang yang digadang-gadang, akan menjadi topik pemberitaan yang tak akan habis dibahas untuk beberapa waktu ke depan.Tersiar kabar kalau Vanessa menuntut banyak hal dari Daven, selaku mantan suami. Mendengar tuntutan Vanessa saja, Kate sangat kesal dan marah. Bagaimana mungkin wanita itu memiliki pemikiran yang luar biasa menjengkelkan seperti itu?Ia memilih duduk sendirian di kursi empuk ruang tamu. Cangkir teh hangat mengepul di tangannya. Pandangannya terarah pada televisi besar di hadapannya. Siaran langsung sidang perceraian Daven dan Vanessa mengisi ruangan dengan suara reporter yang bersemangat memberitakan setiap detail.Rangkuman selama sidang perceraian itu berlangsung, kembali diulas dengan singka
“Chase,” panggil Althea pelan.Langkah mereka terhenti sebelum memasuki area restoran. Musik lembut terdengar samar dari dalam. Josh berdiri di antara mereka, sibuk merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Anak itu tak lagi bertanya mengenai Daven. Sepertinya mendatangi tempat y
“Selain pemilik yayasan SunRise yang banyak menaungi banyak sekolah, Tuan Chase Miller juga memiliki beberapa aset yang cukup membuatnya masuk ke dalam jajaran pria lajang dengan kekayaan yang fantastis di SunCity. Meski tak memegang perusahaan komersil seperti dua adiknya yang lain, tapi k
“Aku senang sekali dengan keputusanmu kali ini, Althea.” Lydia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.Althea baru saja selesai menceritakan semua hal yang terjadi dan apa yang ia putuskan pada Lydia. Tak mungkin ia tak menceritakan semua ini pada Lydia. Selain tak mampu menyem
Daven berdiri membelakangi ruangan, menatap ke luar jendela besar yang membentang dari lantai ke langit-langit. Kota Mighatan terlihat jelas di hadapannya. Siang hari ramai dengan lalu-lalang kendaraan, gedung menjulang tinggi, dan kesibukan yang tak pernah benar-benar berhenti. Tapi semua pemand