Share

[165]

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-06-21 12:12:32

“Apa aku tak salah mendengar, Felicia?” tanya Kalina dengan suara meremehkan. “Kau? Membela Althea?”

“Aku hanya mengungkapkan fakta yang memang terjadi.” Felicia mengedikkan bahu. “Tapi kau tak salah mengira, Kalina. Aku ... memang sedikit membela ‘wanita itu’.”

Kate menggeleng tak percaya atas ucapan Felicia barusan. “Felicia, kau bicara seakan Althea itu wanita suci. Dia menyembunyikan anak itu dari kita bertahun-tahun. Bahkan saat aku bicara dengannya, ia sama sekali tak merasa bersalah mela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
love6002
masih untung felicia menyadari kesalahannya .....................
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [177]

    “Felicia? Di mana Josh? Tidak. Bagaimana keadaan Josh?”Felicia tertegun sejenak. Ia tak menyangka jika orang yang ingin dihubungi, ternyata sudah ada di depan matanya. Meski wanita itu tampak pucat, wajahnya penuh gelisah, dan saat kate memeluk Felicia, tubuhnya gemetar hebat.“Mommy,” bisik Felicia tak percaya. “Bagaimana ... kau bisa ada di sini?”Bukannya menjawab tapi Kate malah tersedu di putrinya. “Aku tidak bisa membayangkan, Felicia. Josh… cucuku… bagaimana bisa dia terlibat dalam kecelakaan mengerikan itu? Ya Tuhan!” tangisnya semakin kencang. Ia tak peduli bagaimana penampilannya sekarang. “Aku benar-benar tak bisa memercayai hal ini. Padahal kemarin aku baru saja bertemu Josh, Felicia.”Felicia berusaha menenangkan ibunya. Ia memberi usapan lembut di punggung Kate sembari berkata. “Aku yakin tim dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk Josh. Aku dan Althea

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [176]

    Felicia yang tadinya sibuk dengan ponsel, menatap Althea dengan heran. Ia merasa pertanyaan barusan sungguh tak berguna. Ibunya pasti akan menyetujui tanpa banyak keluhan.“Kau tak perlu khawatir. Mommy pasti akan datang membantu. Toh, dia tak akan mengabaikan keberadaan Josh.”“Saya harap, segera dilakukan. Setiap detik sangat berharga bagi Josh. Mohon untuk tidak menunda waktu.”“Iya, Dokter. Saya tahu,” tukas Althea. “Tapi ... bisakah memberi waktu sedikit saja. Ada yang ingin saya bicarakan terlebih dahulu.”Baik Dokter dan perawat yang sejak tadi menunggu Althea, akhirnya mengangguk. Mereka memilih berdiskusi untuk tindakan selanjutnya, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa pasien.“Ada apa Althea?” tanya Felicia dengan tatapan penuh tanya. Ia sampai menutup ponselnya. Di depannya, berdiri Althea yang membalas tatapan itu penuh lekat. “Kau .. masih terlihat ragu. Ke

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [175]

    Althea berulang kali menatap ruangan yang masih tertutup rapat itu dengan perasaan gelisah. Waktu yang berlalu, Althea merasa sangat lambat. Kapan dia mendapatkan kabar mengenai kondisi putranya?“Dokter pasti akan melakukan yang terbaik, Althea,” kata Felicia berusaha menenangkan Althea. Yang sejak tadi wajahnya terus saja menunjukkan kegelisahannya.“Kau sudah mengatakan itu tiga kali, Felicia,” kata Althea sembari menghela pelan. “Aku tahu dokter pasti melakukan hal itu. Tapi tetap saja, aku takut.”Sejak tadi, Althea tak mendorongnya menjauh. Meski kata-katanya terdengar sinis dan tatapan yang dia berikan pada Felicia masih menunjukkan rasa tak suka, tapi Felicia berusaha memahami. Jika semua yang Althea lakukan karena ulahnya di masa lalu. Andai saja Felicia berada di posisi Althea, mungkin sejak tadi Felicia sudah diusir dengan perkataan dan makian yang terdengar menyakitkan.Tapi Althea tak melakukan itu.

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [174]

    “Tuan, pihak kepolisian yang menangani kasus kecelakaan Tuan Josh, sudah datang.”Daven juga Chase segera menoleh, menatap dua orang pria berseragam lengkap yang datang untuk mengetahui, bagaimana sebenarnya kecelakaan itu terjadi.“Jadi ... Anda bisa memberitahu kami, Tuan Polisi?” tanya Chase tak sabar.Polisi yang hadir di ruang tunggu bicara hati-hati. “Kami sudah memeriksa sopirnya. Pria itu meninggal di tempat. Hasil visum sementara menunjukkan ia terkena serangan jantung mendadak. Mobil kehilangan kendali saat dikemudikan olehnya. Jadi dugaan sementara, ini murni kecelakaan.”“Jadi maksud Anda,” suara Chase terdengar menahan amarah yang berusaha ditekan, “semua ini hanya kecelakaan biasa?”Polisi itu mengangguk, nada bicaranya tetap formal. “Benar, Tuan Miller. Sopir mobil mengalami serangan jantung mendadak. Kendaraan keluar jalur, dan—” ia melirik c

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [173]

    “Maaf jika kehadiranku mengganggumu,” Felicia segera bicara. Menyela Daven yang mungkin ingin menyapa Althea dan menanyakan kabar putranya. “Aku tak bermaksud apa pun.”Althea mengusap sisa air matanya. Tatapannya tak lagi sendu tapi tajam dan mengarah tepat pada Daven yang berada tak jauh darinya. “Apa maksud semua ini, Daven?”“Kumohon tenang dulu, Althea.” Daven menghela pelan. “Felicia tak memiliki niat apa pun. Dia ... “ Daven melirik ke arah Felicia dan menggeleng pelan. “Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Josh.”Bola mata Althea terbeliak tak percaya. “Jangan bilang kau ... memberitahunya?”“Tidak seperti itu,” sela Felicia cepat. “Aku tahu dari ibumu, Althea. Sungguh. Daven tak menceritakan apa pun mengenai Josh. Justru aku yang mendesaknya untuk mengatakan kebenaran yang sedang ia tutupi dengan banyak alasan yang masuk akal.”&ld

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [172]

    Sirene ambulans terus meraung, memecah kesunyian yang ada di sekitar gedung belakang rumah sakit. Pintu belakang kendaraan terbuka lebar, dan seketika bau obat-obatan, darah, dan ketegangan bercampur jadi satu.“Cepat! Pasien anak laki-laki, trauma kepala, banyak kehilangan darah!” teriak salah seorang paramedis sambil mendorong brankar ke luar.“Josh…!” suara Althea pecah. Dia segera membuka pintu mobil yang ditumpanginya. Mengejar tubuh sang anak yang terbaring tak berdaya. Ia tak peduli jika tubuhnya berlari menghampiri meski langkahnya oleng.Di atas brankar itu, tubuh kecil Josh terbaring lemah. Wajahnya pucat, pipinya masih ternodai darah, napasnya tak stabil meski masker oksigen menempel di wajahnya. Althea mendekap sisi brankar, tangannya gemetar saat membelai lengan putranya.“Josh… Mommy di sini, Nak. Kau dengar Mommy, kan? Tolong… buka matamu…” suaranya serak, hampir tak terdengar.

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [61]

    Berulang kali Althea menghela panjang, berulang kali juga ia memastikan penampilannya sempurna. Dress yang ia gunakan, senada dengan polo shirt yang Chase dan Josh kenakan. Di meja ruang tamu juga sudah Althea persiapkan buah tangan yang akan ia bawa ke rumah Chase. Meski pria itu mengatakan tak pe

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [60]

    “Tuan Daven,” panggil Arsen pelan, mencoba tak mengganggu suasana tenang yang sengaja diciptakan oleh Daven pagi itu. Pria itu duduk di sudut kafe bergaya minimalis industrial, tak jauh dari sekolah Josh. Kopi hitam dalam cangkir porselen tampak masih mengepulkan uap hangatnya. Aroma robusta memenu

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [59]

    “Sayangnya, saya tak bisa mengatakan jadwal Tuan Daven, Nyonya Vanessa,” kata Arsen dengan nada lelah. Sejak tadi, ponselnya terus saja berdering. Bahkan ia sampai mengaktifkan mode silent, saking seringnya istri sang bos menghubungi. Bukan hal aneh jika Vanessa menelepon atau menghujani ponsel Ars

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [58]

    Althea mendorong pintu keluar di ujung lorong lantai lima—sebuah pintu besi dengan pegangan dingin yang mengarah langsung ke atap taman rahasia di gedung sekretariat. Tempat yang belum lama Althea tahu, yang kali disebut Chase sebagai tempat favoritnya melepas lelah. Begitu pintu terbuka, semilir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status