Anton melangkah perlahan, setiap gerakannya diatur agar terlihat memelas. Ia menundukkan kepala, mencoba menampilkan wajah paling sedih yang bisa ia ciptakan, lalu berhenti tepat di depan Mara yang napasnya masih memburu.Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Anton meraih jemari Mara, meski wanita itu mencoba menariknya kembali."Mara... maafin aku, ya?" suara Anton bergetar, ia sengaja merendahkan intonasinya agar terdengar rapuh. "Maafin Ibu dan adik-adikku juga. Kita semua ini sedang kalap, emosi sesaat membuat kita lupa diri. Tapi percayalah, kita ini keluarga, Mara."Anton menatap mata Mara dalam-dalam, mencoba mencari celah empati di sana. "Ayo kita mulai dari awal. Anggap saja kejadian hari ini tidak pernah ada. Kalau kamu usir kami sekarang, kita mau pindah ke mana? Kita tidak punya tempat tujuan, Mara. Kita mau tinggal di mana?"Ia kemudian melangkah lebih dekat lagi, hampir menempel, mencoba merengkuh pundak Mara. "Kasihani aku, Mara. Aku mencintaimu... sungguh, aku mencinta
Read more