"Sa-sayang... aku minta maaf, ya? Aku benar-benar minta maaf," bisik Anton, suaranya bergetar was-was. Ia menelan ludah, takut jika Mara mengamuk, tamatlah riwayatnya. "Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin agar kita bisa hidup tenang lagi. Tolong percaya sama aku."Mara menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Anton dengan mata yang memerah dan napas memburu."Maaf kamu bilang?!" pekik Mara, suaranya melengking tinggi, mematikan. "Emangnya maafmu itu bisa menghapus semua berita yang sudah tersebar luas di media sosial?! Hah?! Bisa?!""Sabar, sayang... Tolong tenang dulu. Kalau kamu teriak-teriak begini, kita enggak bakal nemu jalan keluar. Aku akan cari caranya. Aku pasti cari jalan keluar agar semuanya berakhir dengan baik. Percaya sama aku, Mara," kata Anton, mencoba meraih pundak Mara untuk menenangkannya, namun langsung ditepis kasar."Gimana caranya, Anton?! Nama baikku sudah hancur!"*Bzzzt... Bzzzt...*Tiba-tiba saja ponsel di atas meja bergetar hebat.
Read more