Meylan menarik tangan Wandra dengan gemetar, napasnya sudah tidak teratur. Pipinya merah membara, matanya berkabut oleh asap hitam yang kini sudah memenuhi indranya.“Mas… di sini tidak aman,” bisiknya parau. “Kamar aku di belakang toko… ayo.”Wandra tidak menolak. Tubuhnya sudah terlalu panas, liontin berdenyut liar di dadanya. Ia mengikuti Meylan melewati pintu samping toko yang gelap, menyusuri lorong sempit, hingga masuk ke sebuah kamar kecil di belakang.Kamar Meylan sederhana — ranjang single dengan sprei motif bunga, meja belajar kecil, dan lampu temaram kuning yang menyala redup. Begitu pintu tertutup, Meylan langsung menyerang Wandra.Ia memeluk leher Wandra dan menciumnya dengan liar, penuh kelaparan yang tiba-tiba. Ciuman itu panas, basah, dan penuh nafsu. Lidah mereka saling menari kasar, saling mengisap, saling gigit. Meylan mendesah di dalam mulut Wandra, tubuhnya menempel erat seolah ingin menyatu secepat mungkin.Wandra balas menciumnya dengan ganas, tangannya meremas
Dernière mise à jour : 2026-05-15 Read More