Nila berdiri gemetar. Rambutnya acak-acakan, baju kaosnya robek di beberapa bagian, tapi matanya berkaca-kaca penuh kelegaan. Selama berbulan-bulan ia dipaksa bekerja untuk geng preman itu — dipaksa memancing korban, mengantar barang haram, dan harus menahan segala bentuk pelecehan.“Kamu… kamu benar-benar menyelamatkan aku,” bisik Nila dengan suara bergetar. Air matanya jatuh. Ia langsung berlari memeluk Wandra erat, tubuhnya yang ramping menempel di dada pemuda itu. “Terima kasih… terima kasih banyak…”Wandra hendak menjawab, tapi tiba-tiba liontin di dadanya memancarkan asap hitam tipis yang tak terlihat oleh mata biasa. Asap itu menyebar cepat di udara sempit gang tersebut. Tubuh Wandra langsung panas. Kepalanya pusing, darahnya berdesir hebat ke bawah. Di pelukannya, Nila juga tersentak. Pipinya memerah mendadak, napasnya memburu, dan kedua pahanya tanpa sadar saling menggesek.“Aku… aku merasa aneh,” gumam Nila, suaranya berubah serak. Matanya yang tadinya penuh syukur kini berk
最後更新 : 2026-05-12 閱讀更多