“Lalu, kenapa sekarang kamu tiba-tiba membahasnya? Seolah-olah kamu yang paling tahu segalanya?”Hening.Ivara menatap Sora tajam, tanpa berkedip.Lalu detik berikutnya Ivara tertawa. “Jadi setelah sekian lama, sekarang kamu ingin melemparkan kesalahanmu padaku? Membuat aku jadi tersangka dan menuduh aku sudah menyerahkan isi flashdisk pada jurnalis itu?”Sudut mata Sora menyipit. Lalu senyuman samar terbit di bibirnya. Senyuman yang membuat ketegangan di wajah Ivara kembali terlihat.“Ivara,” ucap Sora dengan tenang. Sangat tenang. “Kenapa barusan aku mendengar… kamu seperti sedang mengakui sesuatu yang sudah kamu lakukan?”Senyuman di wajah Ivara langsung menghilang. “Aku nggak melakukannya!” sanggahnya tegas. “Tapi kamu sendiri yang menyimpulkannya begitu.”“Menarik,” gumam Sora.“Kamu nggak punya bukti apa-apa untuk menuduhku, Sora.”Sora mengangguk. “Memang. Tapi sekarang aku mulai bertanya-tanya, Ivara.”Ivara mengetatkan rahangnya.“Kenapa setiap kali aku bertanya sama kamu, ka
Terakhir Diperbarui : 2026-06-10 Baca selengkapnya