Sebulan sekali, Kakek Mario mewajibkan semua anak dan cucunya berkumpul di kediamannya. Dan ruang makan kediaman Mario selalu mendatangkan atmosfer yang sama setiap bulannya, formal, dingin, dan penuh tuntutan.Meski sang pemilik rumah belum memunculkan diri dari ruang kerjanya, kursi-kursi di meja makan panjang itu sudah terisi penuh oleh anak dan cucu yang tak berani terlambat satu menit pun.Jihan, yang sejak awal duduk berseberangan dengan menantu keponakannya, tampak menyipitkan mata. Instingnya sebagai sesama wanita sosialita terusik. Sejak mereka mengambil tempat, ia merasa ada yang berbeda dari istri Altan.Di seberang meja, Altan, Fiorella, Livia, dan Eric sempat menegang. Ada riak kecemasan yang tertahan di balik punggung tegak mereka, khawatir jika rahasia mereka akan dicurigai malam ini."Kau kelihatan agak berbeda malam ini," celetuk Jihan, memecah kecurigaannya sendiri. "Kau melakukan perawatan kecantikan baru?"Sementara itu, Narin ikut mengalihkan perhatian ke arah Fio
Read more