Share

69

Author: SayaNi
last update publish date: 2026-06-28 09:48:26
Jerry setengah berbaring di atas kursi pijat yang ukurannya luar biasa egois hingga memakan hampir separuh ruang tamu apartemen barunya yang sempit. Sambil menikmati pijatan di punggungnya, sepasang matanya fokus menatap layar ponsel. Jemarinya bergerak lincah, sibuk menyelesaikan level permainan game online.

​Satu minggu lalu, ia memutuskan membeli unit apartemen yang tepat berada di depan unit sewaan Ruenna. Tempat ini sangat sederhana, kamar mandinya sekecil toilet umum dan jendelanya begit
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   120 lupa ngundang

    Malam harinya, Ruenna menatap layar ponselnya. Jerry kembali mengirim pesan singkat, mengabarkan bahwa ia akan menginap di apartemen karena harus bekerja sampai larut.Setengah jam kemudian, Ruenna sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Jerry. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali ia datang saat mereka masih partner kencan. Ruenna tidak tahu apakah suaminya punya unit lain di kota ini, ia hanya menebak Jerry pasti pulang ke tempat ini.Jemarinya menekan digit kode kunci pada panel pintu. Kodenya belum berubah. Unit itu rapi, bersih, dan sama sekali tidak tampak seperti tempat yang lama ditinggalkan. Ruenna tersenyum kecil, tebakannya tepat, Jerry memang menghabiskan beberapa malam terakhir di sini. Ia sadar, jika hanya berdiam diri menunggu di rumah, jarak di antara mereka akan semakin melebar. Kalau kesempatan itu tidak kunjung datang, maka ia yang harus menjemputnya.Ruenna duduk di sofa ruang tengah, berniat menunggu suaminya pulang. Namun, ia t

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   119

    Tirai apartemen itu tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari siang menembus kaca. Ruangan temaram dan sunyi. Fiorella duduk menyantap mie instannya. Sudah hampir sebulan ia tidak berani melangkah keluar dari unit apartemennya. Ketakutan mencekik lehernya setiap detik. Ancaman Franceschi padanya tidak main-main. Tiga minggu lalu, sebuah peluru tiba-tiba menembus kaca jendela mobilnya, tepat di atas kepalanya. ​Ia bahkan membuang ponsel lamanya, menggantinya dengan perangkat baru tanpa kartu SIM aktif, dan menghapus semua akun media sosial demi memutus jejak digital.Permintaan tolong kepada kakeknya pun berakhir petaka. pengawal pribadi yang dikirim sang kakek justru orang-orangnya Franceschi yang hampir membunuhnya di koridor gedung. Fiorella tidak bisa memercayai siapa pun lagi. Ia terkunci dalam bisu, sebab satu patah kata saja ia membocorkan masalah ini, Raffaele Franceschi tidak akan ragu menyebarkan rekaman video skandalnya ke seantero internet.Denting keras tiba-tiba mem

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   118 Kakek Tiri baru?

    Cahaya matahari siang leluasa menembus jendela kaca besar, membuat ruang tengah kediaman Ruenna terang benderang. Jerry bersandar santai di sofa, satu tangannya bertumpu di sandaran di belakang kepala Ruenna. Matanya mengikuti layar ponsel yang dipegang istrinya.Sudah sebulan berlalu setelah pesta pernikahan mereka.“Pilih yang itu,” kata Jerry memerintah. "Lalu beri tulisan besar I have a husband."Ruenna mendongak, menatap suaminya sangsi. "Tidak mau, aku malu."Jerry menatap heran. "Kau malu mengakuiku sebagai suamimu?""Bukan begitu maksudku," elak Ruenna, bergegas menyembunyikan pipi merahnya sambil terus menggeser galeri foto. "Itu berlebihan."Ruenna melirik ponsel hitam milik Jerry di atas meja. "Mengapa nomor pribadimu tidak ikut mengganti foto?"Jerry tersenyum lebar. "Tidak ada yang mengetahui nomor pribadiku selain keluargaku dan Genio. Mereka semua hadir di Danau Como kemarin. Siapa lagi yang perlu kuberi tahu?"Mencari jalan tengah, Ruenna menarik tangan kiri Jerry lal

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   117 Jadi duda

    Ruang bawah tanah villa bersejarah milik keluarga Franceschi tidak berbau lumut atau darah, melainkan aroma lilin Jasmine yang menyala. Dinding batunya tebal dan kedap, warisan abad pertengahan. ​Di tengah ruangan, Fiorella duduk di kursi kayu. Gaun malamnya kusut di bagian lutut. Sudah satu jam ia dikurung sendirian di ruangan tanpa pendingin, membuat riasan wajahnya luntur oleh keringat dingin. ​Pintu ruangan itu berderit pelan saat terbuka. Bukan algojo bertopeng atau sekelompok pria bersenjata yang masuk, tetapi Raffaele Franceschi seorang diri.Masih rapi dengan setelan tuksedo, ia melangkah santai. "Kalian gila!" jerit Fiorella, suaranya menggema di ruangan itu. "Kalian pikir aku siapa? Aku pewaris Harmlock! Istri dari cucu Oleander! Kalau kakek mertuaku sadar aku hilang, keluarga kalian akan hancur!"Raffaele tidak gentar sedikit pun. Ia menarik kursi kayu di seberang meja, duduk bersandar. Tatapannya datar. “Kau benar-benar mirip dengan saudari kami, tetapi tidak sampai s

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   116 Satu Rahasia

    Tak lama setelah Jerry dan Ruenna duduk di meja utama, pintu dapur terbuka. Belasan pelayan keluar beriringan, membagi piring hidangan pembuka ke meja para tamu. Aula villa bersejarah milik keluarga Franceschi itu penuh dengan gumam obrolan dan tawa rendah para tamu undangan yang mulai menyesap anggur.Fischer Franceschi bangkit berdiri. Tangannya meraih pisau kecil, mengetuk pelan bibir gelas anggur di depannya tiga kali. Suara di aula perlahan surut."Selamat malam," Fischer memandang seisi aula, suaranya tenang tapi cukup berat untuk menarik perhatian seluruh ruangan. "Terima kasih untuk kalian yang sudah menempuh perjalanan jauh, naik jet pribadi atau melintasi negara lain hanya untuk hadir di sini. Semoga anggur di meja kalian cukup untuk membuat tiketnya terasa sepadan."Tawa pelan terdengar dari beberapa meja depan.Fischer meletakkan pisaunya kembali, lalu menatap Ruenna dengan sorot mata hangat. "​"Empat anak laki-laki di keluarga Franceschi tidak pernah mudah diatur. Masing-

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   115. Improvisasi

    Jerry menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia diam mengamati Ruenna dan Andrea di dalam kamar itu. Ruenna duduk di tepi ranjang sambil tertawa lepas. Suara itu sangat jarang Jerry dengar. Sementara Andrea bersandar santai pada bingkai jendela. Tangannya sesekali memperagakan ceritanya pada Ruenna. Ia lega melihat istrinya bisa tertawa setelah apa yang baru saja terjadi. Namun, melihat Andrea menjadi alasan tawa itu, membuat perasaan lain muncul. Rasa tidak suka meskipun pria itu adalah saudara angkat Ruenna. Hingga Andrea tanpa sengaja menoleh, tawanya langsung terhenti ketika menyadari kehadiran Jerry. Ruenna ikut menoleh ke arah pintu, lalu ikut terdiam. Melihat keduanya mendadak diam, Jerry berkata, “Sepertinya kedatanganku merusak momen menyenangkan kalian.” "Tentu saja," sahut Andrea santai, sama sekali tidak beranjak dari jendela. "Kau sangat mengganggu." Jerry mengabaikan sindiran itu. Matanya hanya tertuju pada Ruenna saat ia menghampiri istrinya. Punggung t

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 4

    Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 3

    Ruenna bergegas pergi dari Griya perawatan Demensia Brighton Memory Care itu dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak menuju gedung tempat Aras bekerja. Ruenna harus menemui ayahnya itu. Sang sponsor perawatan neneknya. "Biaya perawatan Nenek dihentikan!" seru Ruenna begitu dipersilahkan masuk o

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 2

    Bersama dengan ART, Ruenna meletakkan piring-piring dengan hati hati. Hal yang sudah dihafalnya selama tinggal di kediaman Oleander. Sup pembuka, hidangan utama, hingga set alat makan ditata rapi di hadapan Mario, Altan, Livia, dan Jerry, cucu kakek Mario yang datang bersamanya. Begitu ART mereka

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 1

    Tiga tahun berperan sebagai istri dari seorang pria yang tak pernah menyentuhnya, keseharian Ruenna Selyn malah mengulek cabai di dapur kediaman Oleander. Alih-alih duduk manis menyeruput teh, atau menghabiskan uang di outlet fashion brand mahal layaknya menantu keluarga konglomerat. Di bawah ara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status