“Aku ingin mengajukan gugatan cerai.”Kalimat pertama Emily setelah mereka sampai rumah, tidak mengejutkan Arthur dan Soraya. Mereka hanya saling pandang dengan tatapan sedih.“Maaf, kalau keputusanku ini melukai kalian. Tapi, aku sudah menimbangnya masak-masak. Aku harap—.”“Kami mendukungmu,” potong Arthur lirih.“Ayah?” Emily terharu sekaligus tidak percaya.Ayahnya—Arthur—sangat memuja Raditya. Selain karena laki-laki itu adalah putra kawan lamanya, status Raditya sebagai pewaris Rumah Sakit Hutama merupakan hal yang selalu ayahnya banggakan. Kalimat singkat yang keluar dari Arthur barusan, bukan apa yang Emily bayangkan selama perjalanan tadi.“Ayah serius?” tanya Emily tidak yakin.“Dengan syarat.”“Sudah kuduga,” batin Emily. “Apa syaratnya?”“Lahirkan bayimu dan serahkan pada Hendro,” jawab Arthur tegas.“Ayah.” Soraya menoleh cepat pada suaminya. “Bukan ini yang kita diskusikan semalam, Yah!” protes Soraya cepat.“Itu semalam, hari ini, aku berubah pikiran.” Arthur menatap So
Terakhir Diperbarui : 2026-05-18 Baca selengkapnya