LOGINRaditya menikahi Emily hanya untuk mendapatkan hak waris dari ayahnya. Di saat yang sama, hatinya sudah memiliki Caroline. Kenyataan ini Emily ketahui ketika pernikahannya baru lima bulan berjalan dan dia mengandung anak Raditya. Perlakuan kasar dan perselingkuhan Raditya yang mengakibatkan Emily harus kehilangan bayi mereka, membuatnya ingin bercerai. Dalam kondisi kacau, Emily bertemu dengan Ivander--psikiater tampan yang menjadi rekan kerja dan konsultan kejiwaannya. Lama bersama, membuat Emily menyadari hatinya telah memilih Ivander sebagai pelabuhan cintanya. Namun, cinta mereka terhalang status dan keluarga. Tubuh dan hatinya menginginkan cinta Ivander, tapi akalnya menolak bahaya. Akankah Emily memperjuangkan cintanya untuk mendapatkan kebahagiaan?
View MoreBrakk …!
Emily melempar pintu ruang kerjanya penuh emosi. Dibanting tubuhnya ke kursi hitam besar yang biasanya selalu diperlakukannya lembut karena itu hadiah dari staf bawahannya di hari pertamanya bekerja. Kepalanya yang berdenyut selaras dengan nadi, ditopang tangannya di atas meja, seolah akan jatuh kalau Emily tidak melakukannya.
Drtt … drtt …
Getar ponsel mengejutkan Emily, membuat mata sembabnya yang tadi terpejam, terbuka perlahan. Tangannya terulur meraih ponsel, Raditya menghubunginya. Digesernya gambar telepon berwarna hijau untuk menjawab panggilan dan dibawanya mendekat telinga.
“Di mana kamu?!” Sebuah teriakan membuka percakapan.
“Di rumah sakit,” jawab Emily singkat.
“Kurang ajar! Beraninya kamu meninggalkan rumah tanpa ijin! Aku belum selesai denganmu!” Teriakan Raditya membuat denyutan kepala Emily berubah menjadi dentuman
“Bagaimanapun aku masih harus bekerja, Mas. Sudah dulu, banyak pasien yang menungguku.” Emily memutus sambungan tanpa menunggu persetujuan lawan bicaranya.
Kepalanya seperti mau meledak, dadanya sesak. Alangkah baiknya kalau dia bisa melampiaskan amarahnya dengan menangis. Namun, Emily sudah lupa bagaimana caranya menangis, setiap kali Raditya memperlakukannya dengan kasar sejak malam pernikahannya.
Emily juga tidak habis pikir, bagaimana sikap Raditya sejak malam pernikahan mereka bisa sangat bertolak belakang dari awal pertemuan, seolah pria itu memiliki dua wajah dan kepribadian. Raditya Hutama yang dikenalnya adalah pria yang sopan, perhatian dan berwawasan luas, sedangkan Raditya yang dinikahinya adalah pribadi yang pemarah, kasar dan suka main tangan.
Emily mengulurkan tangannya ke laci meja di sebelah kakinya, mengambil kotak P3K yang selalu setia menemaninya tiap kali tubuhnya terluka karena perilaku suaminya. Diolesnya salep anti inflamasi di sekitar bibir dan pipinya yang mulai bengkak sambil meringis menahan sakit.
Beep …! Beep …!
Lampu merah kecil di pojok kanan telepon mejanya berkedip seiring suara panggilan masuk. Tangan Emily terulur malas meraih gagang telepon.
“Halo, Emily di sini.”
[Halo, Dok. Saya Salma, perawat IGD. Ada konsulan pasien baru dengan closed fracture femur. Kapan bisa dilihat, Dok?] tanya perawat di seberang.
“Lho, kok telfon saya? Itu pasien orto, Sus!” tolak Emily sedikit bersungut di tengah suasana hatinya yang berkabut.
[Maaf, Dok. Bagian orto lainnya sedang izin mengikuti simposium. Hanya tersisa Dokter Yusak dan satu residen baru. Sekarang sedang berada di ruang operasi.]
“Hhh …,” desah Emily lelah. “Oke. Sepuluh menit lagi.”
Emily meletakkan gagang teleponnya dan kembali bersandar. Kepalanya masih berdenyut nyeri karena tamparan Raditya tadi.
“Baiklah, Emmy. Kamu harus simpan masalahmu ke dalam laci meja dulu. Semangat,” gumam Emily lemah, berlawanan dengan kalimatnya.
Emily bergegas turun ke lantai dasar tempat ruang gawat darurat, memeriksa pasien dan melakukan tindakan penanganan semampunya sebelum akhirnya Yusak datang dan mengambil alih pekerjaannya. Langkahnya gontai berjalan kembali ke ruangan dengan rasa mual yang tiba-tiba melanda perutnya. Ia setengah berlari menuju toilet terdekat dan memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel.
Emily berpegangan erat pada pinggiran wastafel setelah rasa mualnya berkurang. Keringat membasahi dahinya. Diangkat wajahnya menatap lurus ke dalam cermin, memandangi wajah cantiknya yang kini nampak tirus dan mengenaskan.
“Emmy, sakit adalah hal yang tidak boleh terjadi saat ini. Kamu harus kuat dan melawan semua ini,” ujarnya dengan tatapan tajam ke cermin.
“Dok, apakah anda baik-baik saja?” tanya seorang perawat yang baru masuk toilet dengan tatapan cemas.
“Ya, terima kasih.” Emily berusaha tersenyum sambil mengusap bibirnya dengan tisu. “Saya duluan.”
Sesampainya di ruangannya, Emily mengunci pintu dan membaringkan tubuhnya di atas sofa lipat warna marun kesayangannya.
“Aku akan memejamkan mataku sebentar,” janji Emily sambil memposisikan kepalanya ke tempat yang nyaman.
***
Seorang gadis kecil usia sepuluh tahun, berambut ikal sedang berlari membawa dua buah es krim di tangannya. Dengan mata berbinar dia mendekati gadis kecil lain mirip dirinya yang sedang berdiri menunggunya.
“Kak, aku berhasil mengejar abang penjual es krimnya!” serunya bersemangat seraya mengulurkan satu es krim di tangan kanannya. “Rasa cokelat untukmu dan vanilla untukku,” ujarnya berbinar.
“Wow, terima kasih, Emmy. Aku yakin kamu pasti bisa mengejar karena larimu sangat cepat.” Amelia menerima es krim cokelatnya dengan riang dan menjulurkan lidahnya menjilat pinggiran cone menikmati lelehan es krim miliknya.
“Apa kau suka?” Emily mengamati kakaknya yang sibuk menjulurkan lidah.
“Mmm ….” Amelia hanya mengerjap dan mengangguk sambil terus menikmati es krim di tangannya.
“Pelan-pelan saja, Kak. Jangan sampai kau tersedak karena terburu-buru.” Emily memperingatkan kakaknya disela-sela kegiatan yang sama.
Dua gadis kembar itu sesekali saling pandang dan terkekeh senang menikmati makanan kesukaan mereka. Langkah kecil tidak teratur, menyusuri pinggiran taman sambil berceloteh dan bertukar es krim menuju rumah. Mata Amelia teralihkan ke jalanan sepi di mana seekor anak kucing berlari mengejar capung dan berhenti di tengah.
“Emmy, anak kucing itu lucu, ya!” pekik Amelia riang sambil menunjuk ke jalan.
Emily mengangguk tanpa menoleh ke arah yang Amelia tunjuk. Ia masih fokus dengan lelehan es krim di jarinya. Di luar dugaan, Amelia berlari ke tengah jalan menghampiri anak kucing dan berjongkok di sisinya.
“Emmy! Sini deh …!” panggil Amelia semangat.
Emily menoleh ke arah suara dan melihat kakaknya sudah berjongkok mengelus rambut anak kucing. Dari arah Utara, sebuah truk muatan melaju cepat dan tidak terkendali, entah apa yang terjadi dengan sopir truk itu. Klakson truk menyala nyaring berulang kali memberi peringatan disertai lampu putih yang berkedap-kedip ke arah Amelia.
Mata Emily terbeliak menyadari bahaya yang mengancam kakaknya. “KAK, AWAS …!” teriak Emily memperingatkan. “MINGGIR…!” imbuhnya panik.
Amelia juga panik menyadari hal itu. Ia berdiri hendak berlari menepi, tapi teringat anak kucing di bawahnya dan tanpa pikir panjang, ia kembali berjongkok, meraih anak kucing dan membawanya ke dalam pelukan.
Braakk …! Krash …!
“KAKAK …!!”
Teriakan Emily dan suara tabrakan terdengar menyayat hati. Mata bulat Emily melihat dengan jelas bagaimana tubuh kecil saudara kembarnya dihantam truk, tergulir di tanah dan kemudian menghilang. Es krim di tangan terus meleleh bersamaan dengan darah segar yang merembes keluar dari bawah truk.
Detik berikutnya, Emily tidak ingat lagi. Matanya gelap dan sekujur tubuhnya terasa berat.
Drtt … drtt … drtt ….
Getar ponsel dalam saku jas putihnya membuat Emily tersentak dari mimpi masa kecilnya dengan mata sembab. Kepalanya kembali berdenyut nyeri saat dia duduk dengan cepat karena terkejut.
“Ya, halo,” jawab Emily dengan suara serak. Tangannya mengusap mata basahnya dengan cepat.
“Astaga, Emmy! Ke mana saja?! Sulit sekali menghubungimu!” Suara panik menyambut sapaan Emily.
“Kenapa, Ga?” tanya Emily malas.
“Turun sekarang! Aku punya pasien baru. Butuh bantuanmu!” desak Arga.
“Pasien apa? Di mana?” tanya Emily mulai memperoleh fokusnya.
“Ahh …. Sudah kuduga. Tidak akan mudah membuatmu panik.” Suara Arga melembut. “Turunlah ke kantin. Prof. Burhan ulang tahun. Cepat!”
“Dok, sini! Jangan belajar terus …!” teriakan-teriakan samar turut mengundang penuh semangat.
“Oke.” Emily menjawab singkat dan memutus sambungan. Sebenarnya, saat ini dia malas beranjak dan bertemu rekan sejawatnya. Namun, Burhan adalah guru dan mentor terbaiknya di kampus. Sekarang, mereka bertugas di tempat yang sama. Kurang etis rasanya menolak undangan beliau.
Di kantin rumah sakit, nyaris seluruh kursi terpakai oleh perawat dan dokter departemen bedah umum, kenalan Emily. Melihat salah satu dokter favorit mereka datang, sontak tepukan tangan riuh menyambut, bahkan ada beberapa yang berdiri menyerahkan kursi.
Arga berjalan menghampiri Emily dengan gaya angkuh yang dibuat-buat. “Lihat, siapa yang datang? The most wanted surgeon in the world!” sambut Arga meriah seraya merentangkan kedua lengannya.
“Ishh … norak!” desis Emily. Dicubitnya lengan kanan Arga dan menariknya turun. “Malu tau!”
Arga mendekatkan wajahnya sambil berbisik, “Siapa tahu ada yang nawarin endorse. Lumayan, kan. Daripada lu manyun.” Arga tergelak seraya menjauh menghindari kepalan tangan Emily yang terangkat ke arahnya.
Detik berikutnya, tawa Arga lenyap tanpa jejak ketika matanya menangkap sudut bibir Emily yang sobek dan pipinya yang sedikit aneh. “Pipi sama bibir kenapa?” tanya Arga dengan dahi mengernyit.
Sontak, Emily menutup sisi wajahnya yang terluka dengan punggung tangannya. “Apaan?! Kepo.”
“Seriusan, kenapa?!” Suara Arga sedikit meninggi. Emily adalah sahabat sekaligus penolongnya selama menjalani perkuliahan. Dia yang selalu ringan memberi bantuan selama Arga kesulitan belajar, terlebih lagi ketika Arga nyaris tidak lulus stase mayor, membuat pribadi santai seperti Arga jatuh hati. “Radit?” desak Arga seraya menarik Emily menjauh dari kerumunan.
“Arga, lepas! Banyak yang melihat kita. Jaga sikapmu!” desis Emily kesal.
“Jawab dulu pertanyaanku! Siapa yang pukul kamu?” Arga menatap Emily tajam. Dia sudah menganggap wanita cantik berambut ikal di depannya itu seperti adiknya sendiri, meskipun hatinya pernah hancur kala membaca undangan pernikahan yang Emily berikan langsung padanya.
“Gak ada yang pukul, Ga. Aku jatuh di kamar mandi tadi pagi. Udah, lah. Orang-orang nungguin kita.” Emily mencoba menghindari tatapan mata Arga yang menyelidik. Dia bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan sesuatu dan Arga bukan orang bodoh yang mudah sekali tertipu.
“Kamu gak pandai berbohong, Emmy! Ayo, temani aku cari Raditya!” Arga menarik pergelangan tangan Emily tanpa menghiraukan tatapan ingin tahu teman sejawatnya yang sejak tadi memperhatikan mereka.
“Arga, Arga! Lepasin!” protes Emily seraya berusaha melepaskan cengkeraman Arga. “Banyak yang liatin! Arga!” Emily masih berusaha berontak dan menjajarkan langkah agar tidak jatuh sampai sebuah suara membuatnya mendongak.
“Ada apa ini?!” Raditya Hutama berdiri menghadang jalan dengan rasa tidak suka yang tidak ingin disembunyikannya.
***
Pamela keluar dari bilik periksa dengan wajah kesal. “Sebaiknya, apa yang igin kamu bicarakan adalah hal yang benar-benar penting,” sembur dokter cantik itu.“Aku yang akan jadi wali pasien,” singkat Ivander.“Hah?! Apa? Kamu apanya pasien?!” desis Pamela dengan mata mendelik. “Jadi kamu yang—.”“Dengar!” bentak Ivander tertahan. “Aku akan ceritakan detailnya, yang pasti tidak seperti bayanganmu. Biarkan aku yang tanda tangan semua dokumennya.”Dahi Pamela mengkerut dalam. “Aneh! Aku tidak pernah berpikir kamu akan seputus asa ini, Van.”“Hentikan fantasimu! Aku tidak sebejat itu.”Mata Pamela mengerjap lega. “Syukurlah. Tapi, kamu tetap tidak bisa menjadi wali pasiennya. Harus keluarganya. Kecuali, kamu memang keluarga pasien,” sindir Pamuela jenaka.“Van,” panggil Emily dari balik tirai.Ivander mendekatkan kepalanya ke telinga Pamela dan berbisik, “Segera!” Setelahnya, ia menghilang di balik tirai.“Ya.” Ivander berdiri di samping ranjang Emily. Tangannya mengepal melihat kondaisi
“Hei!” hardik Ivander kaget seraya mencekal lengan Emily yang menghajar tubuhnya. “Apa yang kamu lakukan?!” Matanya membulat marah.“Aku yang bertanya lebih dulu padamu, apa maksudnya ini?!” balas Emily tak kalah marah. “Seolah kamu berhak mengatur seluruh kehidupanku hanya karena beberapa kali memberiku bantuan. Begitu?!”Ivander menarik tubuhnya duduk dan membawa Emily bersamanya, duduk di atas pangkuannya. “Dan beberapa kali itu tidak bisa membuatmu percaya padaku? Baiklah. Aku akan tunjukkan sikap yang akan membuat kepercayaanmu semakin pudar.”Cekalan Ivander berpindah dari pergelangan tangan Emily ke tengkuk wanita itu. Dengan satu kali hentakan, kepala Emily meneleng sesuai perintah Ivander dan menerima ciuman yang menuntut.Emily berontak. Marah dan kesal dengan sikap sesuka hati pria itu. Ia menggigit bibir pria itu dan mulai menangis. Sakit di bibir bawahnya, membuat Ivander terpaksa melepaskan ciumannya.Sikapnya melunak melihat Emily menangis tersedu di pangkuannya. Tangan
Grep!Ivander mencium Emily dengan rakus. Bibirnya menekan, memaksa wanita itu menerima dan membalasnya. Emily terpaku beberapa detik lamanya, sebelum kedua tangannya mulai mendorong dan memukul Ivander.“Humpt … humpt …!” Emily berontak sekuat tenaga, tapi sia-sia. Ivander terlalu kuat untuk dilawan.Tangan Emily berhasil menyusup di antara tubuhnya dan Ivander. Kepalan tangannya mendorong sekuat tenaga. Pikirannya hanya fokus untuk melepaskan diri dari jeratan gairah Ivander yang nyaris menghanyutkannya.“Hhh … hhh … hhh.” Emily terengah-engah kehabisan napas. Kepalanya menggeleng cepat ketika kepala Ivander kembali mendekat. “Tidak … hentikan,” tolaknya lemah.“Lihat aku!” perintah Ivander yang hanya dijawab gelengan kepala Emily. “Emily, lihat aku.” Nada Ivander melembut.Emily mendongak dengan wajahnya yang basah dan merona karena ciuman Ivander. Mata itu basah oleh air mata.“Kamu menangis? Apa aku menyakitimu?” tanya Ivander sambil mengusap bibir bengkak Emily dengan ibu jariny
Tok tok tok.Pintu kamar terbuka. Jemari Ivander masih melanjutkan aktivitasnya.“HEI …!” bentak Arga menghambur masuk.Emily hendak menurunkan kemejanya, tapi tangan bebas Ivander mencegahnya. “Rahimnya keras. Cepat siapkan USG portable-mu!”“Oke.” Dengan kesal karena Ivander tidak berusaha menghentikan aktivitasnya, Arga membuka koper kecil dan mulai menyiapkan peralatannya. Makin kesal hatinya manakala melihat Emily bersemu merah karena sentuhan itu.“Minggir!” usir Arga dingin.Kalimat Arga tidak serta-merta membuat Ivander beranjak. Ia masih sempat mengambil tisu, membersihkan krim dari perut Emily dan bangkit perlahan. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Emily dan tentu saja, semu merah itu terekam juga olehnya.“Emmy, kamu sedang mengalami kontraksi.” Arga menempelkan jemarinya lembut sebelum menuang gel dingin berwarna biru muda. “Ayo, kita cek dulu.”Layar hitam putih segera berubah begitu probe USG Arga menempel di perut Emily. Arga beberapa kali terdiam dan mengambil tang
Emily kembali ke kamarnya, berbaring menyamping setengah meringkuk—posisi favoritnya ketika membutuhkan perlindungan. Sebuah himpitan terasa menyesakkan dadanya melihat kondisi Soraya nyaris kembali ke tahun-tahun setelah kepergian Amelia. Rumah besarnya kembali sunyi. Meja makan bund
Soraya terus memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang diutarakan wanita muda yang menghampiri Emily dengan takut-takut. Dari yang didengarnya, Soraya tahu bahwa wanita muda itu adalah istri pedagang yang ditabraknya.“Mereka pasangan muda dengan tiga orang anak yang masih kec
“Aku ingin mengajukan gugatan cerai.”Kalimat pertama Emily setelah mereka sampai rumah, tidak mengejutkan Arthur dan Soraya. Mereka hanya saling pandang dengan tatapan sedih.“Maaf, kalau keputusanku ini melukai kalian. Tapi, aku sudah menimbangnya masak-masak. Aku harap—.”“Kami mendukungmu,” pot
“Sudah waktunya kamu menjadwalkan sesi konselingmu, kalau itu tidak merepotkan.”Emily mendongak. “Apakah bisa sekarang?”Alih-alih menjawab, Ivander mengambil kursi dan meumbawanya ke samping ranjang Emily. “Silakan,” ujarnya yakin.&ldquo






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.