LOGIN“Aku ingin mengajukan gugatan cerai.”Kalimat pertama Emily setelah mereka sampai rumah, tidak mengejutkan Arthur dan Soraya. Mereka hanya saling pandang dengan tatapan sedih.“Maaf, kalau keputusanku ini melukai kalian. Tapi, aku sudah menimbangnya masak-masak. Aku harap—.”“Kami mendukungmu,” potong Arthur lirih.“Ayah?” Emily terharu sekaligus tidak percaya.Ayahnya—Arthur—sangat memuja Raditya. Selain karena laki-laki itu adalah putra kawan lamanya, status Raditya sebagai pewaris Rumah Sakit Hutama merupakan hal yang selalu ayahnya banggakan. Kalimat singkat yang keluar dari Arthur barusan, bukan apa yang Emily bayangkan selama perjalanan tadi.“Ayah serius?” tanya Emily tidak yakin.“Dengan syarat.”“Sudah kuduga,” batin Emily. “Apa syaratnya?”“Lahirkan bayimu dan serahkan pada Hendro,” jawab Arthur tegas.“Ayah.” Soraya menoleh cepat pada suaminya. “Bukan ini yang kita diskusikan semalam, Yah!” protes Soraya cepat.“Itu semalam, hari ini, aku berubah pikiran.” Arthur menatap So
“Sudah waktunya kamu menjadwalkan sesi konselingmu, kalau itu tidak merepotkan.”Emily mendongak. “Apakah bisa sekarang?”Alih-alih menjawab, Ivander mengambil kursi dan meumbawanya ke samping ranjang Emily. “Silakan,” ujarnya yakin.“Hah?! Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya.” Emily panik karena Ivander menanggapi gurauannya dengan serius. “Aku hanya ingin mencairkan suasana yang canggung antara kita,” elaknya.Raut wajah Ivander seolah-olah ingin mengumpat dan berteriak di muka Emily, namun pria itu menahannya hingga garis rahangnya tergambar jelas.“Maaf,” ujar Emily lirih seraya menundukkan kepalanya. “Aku tidak bermaksud mempermainkanmu.”Canggung yang ingin dihilangkan Emily, justru semakin tebal dan pekat.“Apa yang akan kamu lakukan bila milikmu, ehm, sesuatu yang kamu anggap kepunyaan diambil orang, bukan.” Emily menggeleng cep
Emily tertegun di depan pintu kamarnya dengan kantong plastic di tangan. Matanya masih tertuju pada punggung room boy yang makin menjauhinya.“Dari siapa ini?” gumamnya penasaran sambil kembali ke dalam kamar.Emily duduk di sofa sambil mengeluarkan dua thinwall dari dalam plastik. Satu berisi bubur ayam, sedang lainnya berisi puding mozaik aroma milo lengkap dengan sausnya.“Wah …!” Emily terkagum melihat dua buah kotak terbuka di depannya. “Siapa pun kamu, terima kasih,” Emily meraih sendok puding, menyuapkan sesendok besar puding ke mulutnya dan mulai mengunyah. “Hmm … enak.”Sesuap demi sesuap, Emily menyendok puding hingga bersih tak bersisa dan merasa bersalah karena bubur ayamnya belum tersentuh. “Ahh, bubur ayamnya belum tersentuh.” Sendok Emily berpindah mencicip bubur ayam yang aroma kuahnya menggugah selera.Slurp ….Emily menyuapkan sesendok besar bubur, lalu menyeruput kuah kuning terang dengan taburan daun bawang yang sejak tadi menggoda hidungnya. “Hmm … sedap sekali. K
Caroline duduk dengan gusar di sofa lobi hotel tempatnya menginap. Tiga puluh menit sudah berlalu sejak terakhir dia menghubungi Raditya. Pria itu berkata akan datang menjemput, tapi sampai saat ini belum juga nampak batang hidungnya.“Mana dia? Kenapa lama sekali?” gumam Caroline gusar. “Tidak mungkin dia ingkar janji.” Caroline melirik jarum arloji hitamnya. Hatinya yang gusar membuat matanya mengulang beberapa kali tindakannya. Jemarinya sibuk menyalakan layar ponsel dan menekan tombol memanggil bersamaan dengan sebuah suara menyebut namanya dengan lembut.“Carol!”Caroline mendongak dan memasang wajah cemberut yang manja melihat Raditya berjalan cepat ke arahnya. “Kenapa lama sekali?” sambutnya begitu Raditya berdiri di hadapannya.“Maaf, aku mampir dulu ke apotek.” Raditya mengerling nakal. “Persediaan habis.”Mengerti apa yang Raditya maksudkan, Caroline pun tergelak. Ia berdiri dengan cara yang menggoda dan merapat ke depan. Bibirnya nyaris menempel di telinga Raditya. “Kenapa
Arga dan Emily terperanjat menyadari pintu ruangan terbuka tanpa peringatan. Mereka buru-buru menjauhkan diri dan mendongak ke arah pintu.“Maaf mengganggu.” Ivander berdiri menjulang di ambang pintu dengan wajah kaku tanpa ekspresi. Diamatinya wajah sejawat yang barusan tertangkap basah olehnya. Datar dan tanpa rasa penyesalan, itu yang Ivander simpulkan.“Ini resep obat penenang. Minum saat merasa cemas dan sulit tidur.”Tanpa repot menunggu ada yang menyambut resep di tangannya, Ivander meletakkan lembaran resep itu di meja kecil dekat pintu. “Silakan dilanjut,” ujar Ivander sebelum berbalik pergi dengan pintu yang sengaja dibiarkannya terbuka.“Sial!” umpat Arga, kesal atas sikap tenang Ivander dan kesalahpahamannya.“Maaf,” lirih Emily seraya menjauh.“Emmy! Apa yang membuatmu menjadi berubah begini?!” Bertambah kesallah Arga melihat sikap Emily. “Kita tidak berbuat salah. Permintaan maafmu membuatku merasa sedang melakukan dosa besar.” Arga mengusap wajahnya frustasi.Emily mema
“Em, Emmy!” Hendro memegang bahu menantunya yang bergetar. “Ada apa? Kenapa menangis begini?” tanya Hendro panik.Emily tidak menjawab. Ia hanya menangis tersedu sambil menggelengkan kepalanya.“Emmy, oke. Anggap, kamu membenci Radit, tidak bisa memaafkannya dan ingin bercerai darinya. Coba, lihat papa.”Emily mengangkat wajahnya dan bertukar pandang dengan Hendro.“Kita ini dokter, Nak. Penyelamat nyawa, bukan sebaliknya. Tolong, kamu pikirkan lagi baik-baik. Terlepas dari semua masalah dan ucapan papa. Hmm?” Wajah Hendro melembut, tidak tega melihat kondisi Emily. “Jangan memutuskan apa-apa. Kamu butuh konseling yang sehat agar tidak menyesali setiap keputusan yang kamu buat.”Hendro mengguncang lembut bahu Emily sebelum berdiri dan merapikan bajunya. “Papa akan atur supaya kamu bisa ngobrol dengan Ivan. Eits, tidak ada penolakan,” imbuh Hendro cepat manakala dilihatnya Emily hendak menolak sarannya.“Papa harus selesaikan pekerjaan papa dan memastikan tidak ada kabar tidak perlu yan







