Turun dari kereta, Emily melihat Arthur dan Soraya berdiri di belakang besi, berdiri bersama para penjemput lainnya. Secuil rasa hangat menyusup masuk ke dalam hatinya yang hampir beku.“Emily …,” Soraya menyapanya lembut seraya membuka kedua lengannya.Bimbang, Emily melangkah pelan masuk dalam pelukan Soraya yang ternyata sangat hangat, melebihi yang dia bayangkan.“Bu,” balas Emily lembut. “Yah.” Emily melepaskan pelukan Soraya perlahan dan menatap Arthur.Arthur tersenyum. Lalu, ia merentangakn kedua lengannya seperti yang Soraya lakukan. Emily diam sejenak menatap sepasang lengan yang entah kapan terakhir kali memeluknya.“Maafkan, Ayah.”Kalimat sederhana yang keluar dari bibir Arthur dengan nada penuh penyesalan itu, meruntuhkan tembok yang selama ini Emily bangun untuk melindungi dirinya. Layaknya seorang anak yang merindukan pelukan, Emily menyambut lengan Arthur. Mereka berpelukan erat beberapa waktu lamanya.Emily merasa sesak napas karena tangisnya tidak bisa keluar. Ada t
Read more