Se connecterEmily mencoba membuka matanya yang berat dengan cepat. Namun, buru-buru ia memejamkannya rapat karena pusing menyerangnya.“Sial! Apa yang mereka pakai membiusku?” batin Emily sambil menata otaknya.Ia merasa tangan dan kakinya juga sulit untuk digerakkan, ada yang menahannya bergerak. Tapi, ia tetap mencoba melawan. Hasilnya, kepalanya semakin kencang berdenyut.Sret … sret ….Emily meringis kesakitan manakala tali yang mengikat tangan dan kakinya ditarik semakin erat. Menyadari ada orang lain yang bersamanya, Emily memaksa matanya terbuka. Seorang pria asing sedang membungkuk di atas kakinya.“S-siapa kamu?” tanya Emily seraya mengernyit merasakan pening yang menyergap kepalanya.Carlos memasang masker dan topi hitamnya.“Siapa kamu?!” ulang Emily sambil berteriak. “Tolong …! Tolong …!!”Plak!Punggung tangan kiri Carlos mendarat keras di pipi Emily hingga kepala wanita itu terpelanting ke kanan. Kepala Emily nyaris meledak rasanya. Pipinya panas. Sudut bibirnya perih dan lidahnya m
Turun dari kereta, Emily melihat Arthur dan Soraya berdiri di belakang besi, berdiri bersama para penjemput lainnya. Secuil rasa hangat menyusup masuk ke dalam hatinya yang hampir beku.“Emily …,” Soraya menyapanya lembut seraya membuka kedua lengannya.Bimbang, Emily melangkah pelan masuk dalam pelukan Soraya yang ternyata sangat hangat, melebihi yang dia bayangkan.“Bu,” balas Emily lembut. “Yah.” Emily melepaskan pelukan Soraya perlahan dan menatap Arthur.Arthur tersenyum. Lalu, ia merentangakn kedua lengannya seperti yang Soraya lakukan. Emily diam sejenak menatap sepasang lengan yang entah kapan terakhir kali memeluknya.“Maafkan, Ayah.”Kalimat sederhana yang keluar dari bibir Arthur dengan nada penuh penyesalan itu, meruntuhkan tembok yang selama ini Emily bangun untuk melindungi dirinya. Layaknya seorang anak yang merindukan pelukan, Emily menyambut lengan Arthur. Mereka berpelukan erat beberapa waktu lamanya.Emily merasa sesak napas karena tangisnya tidak bisa keluar. Ada t
“Satu dua puluh,” gumam Emily menatap layar ponselnya sambil menguap. “Kenapa aku belum juga terlelap?”Mata Emily mengantuk, namun hatinya gelisah. Kejadian di dalam taksi tadi terus mengganggunya. Emily memutuskan keluar kamar sambil membawa laptopnya. Ia duduk di meja dekat dapur dan mulai menonton video bedah koleksinya, pikirannya mulai teralihkan.Emily melirik pojok kanan bawah layar laptopnya setelah menonton dua video. “Sudah hampir pagi,” ujarnya seraya merebahkan kepalanya di atas meja beralas lengan.Rasa sakit di tengkuknya membuat Emily terbangun. Aroma kopi hitam yang diseduh air panas, menyambut hidungnya. Emily mengangkat kepalanya perlahan, menguap dan menggeliat dengan suara menggeram yang manja.“Pagi!”Emily melompat turun dari kursinya dan terbeliak melihat Ivander berdiri di dapurnya, memegang teko air panas di tangan kiri, celemek menempel di tubuhnya dan sedang menatapnya dengan mata berbinar jenaka.“Sial!” umpat Emily spontan.“Terima kasih,” sindir Ivander.
Adrian mengernyit melihat gerak-gerik Ivander yang tidak seperti biasanya. Ia mengambil dua gelas champagne dari talam yang kebetulan sedang ditawarkan oleh seorang pelayan padanya, lalu menghampiri Ivander.“Apa yang membuatmu gundah? Apa Emily tidak datang bersamamu?” Adrian menyodorkan satu gelas ke depan Ivander.“Justru karena Emily datang, maka Ivan menjadi gelisah,” sahut Sandra cepat. “Kamu tahu, ia tidak bisa tenang berbincang denganku. Matanya terus saja menatap ke lantai atas.”Ivander tidak repot mendebat. Ia menyerahkan gelasnya kembali pada Adrian dan setengah berlari menaiki anak tangga.“Ada apa dengannya?” tanya Adrian bingung.Sandra tersenyum puas. “Saatnya kita melihat gunung es mencair.”Adrian semakin tidak mengerti. “Maksudnya?”“Ish …!” Sandra mendesis kesal. “Tunggu saja sampai wanita bernama Emily itu turun dan bergabung dengan kita.”Tok … tok … tok.“Emily, apa ada masalah?” tanya Ivander gelisah.“Ngh, tidak. Aku keluar sekarang.” Terdengar suara Emily men
Srak. Prang!Caroline terbeliak kaget melihat alat makan dan semua isinya pindah dari meja ke lantai dalam satu sapuan tangan.“Hei! Apa-apaan ini?!” hardik Caroline marah. “Ada apa denganmu belakangan ini?!” imbuhnya.Mendengar bentakan Caroline, amarah Raditya makin menggila. Ia bergerak cepat menghampiri Caroline dan mencekik leher wanita itu.“Semua ini gara-gara kamu terus mendesakku!” Ucap Raditya dengan suara berdesis. “Kamu mengacaukan semuanya!”Wajah Caroline memerah. Napasnya mulai sesak. “Aakh …! R-ra … dit. Aakh ….” Caroline berusaha melepaskan cengkeraman tangan raditya di lehernya.Brug!Raditya mendorong leher Caroline hingga wanita itu jatuh terjengkang ke lantai.“Siaaal …!” raung Raditya dengan kepala tengadah.Caroline beringsut menjauh dengan cepat. Ia ketakutan dan kesakitan, namun o
Ivander baru menyelesaikan sesi kuliah terakhirnya hari ini. Ia membereskan beberapa buku dan bersiap pergi ketika tiga orang mahasiswi menghampiri mejanya.“Dok, boleh kami bicara sebentar?”Tanpa menghentikan gerakannya, Ivander menjawab, “Silakan.”“Dokter sudah menikah?” tanya gadis berkacamata setelah dua rekannya menyikut lengannya.Ivander diam beberapa saat hingga seluruh barangnya masuk ke dalam tas dan menggenggam ponselnya. Ia menatap lurus pada gadis di hadapannya. “Belum.”“Dokter punya kekasih?” tanya gadis lain di belakang gadis berkaca.Ponsel Ivander bordering, sebuah panggilan masuk. Senyum simpul terbit dari sudut bibirnya ketika membaca nama yang tertera di layar, membuat ketiga mahasiswinya saling pandang.“Kebetulan sekali,” ucap Ivander seraya menghadapkan layar ponselnya pada tiga gadis di depannya. “Ini dia.”“Kekasihnya, Dok?”“Tunangannya?”Dua gadis di belakang gadis berkacamata bersikap responsif.“Saya harus menjawab panggilan.” Ivander tersenyum lebih le
Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.“Wow …! Best match …!”
“Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!” pekik Emily beringsut cepat dan menarik tinggi selimutnya.Ivander berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Ta
Emily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah. Pikirannya kembali pada waktu seorang petugas laboratorium membawa hasil pemeriksaan
Entah mengapa, Emily tidak terkejut mendengar penjelasan Soraya. Adanya perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya dengan Raditya sempat terbersit dalam pikirannya, hanya berada diurutan terbawah.“Emmy, kalau memang kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik buat kalian, ibu akan coba bicarak







