"Kau pikir kau bisa terus mengaturnya sesukamu, Ayah?! Kau pikir aku ini apa?!" Bentakan nyaring Marlina memecah keheningan pelataran mansion yang megah itu. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun menahan gelombang frustrasi yang sudah membakar seluruh kesadarannya. Puluhan pengawal berbaju hitam yang berbaris di sana tetap menunduk kaku, tidak berani berkutik, sementara Leo hanya berdiri beberapa langkah di belakangnya, melipat kedua tangan di dada sembari menikmati pertunjukan dengan senyuman tipis yang menyebalkan. David Andreas, sang penguasa mafia yang berdiri di puncak tangga, sama sekali tidak terkejut. Ia justru menatap putrinya dengan ketenangan yang mutlak. "Kau membawa pulang seorang pemberontak, Leo," ujar David, suaranya berat dan lambat, mengabaikan amukan Marlina seolah itu hanyalah angin lalu. "Jangan mengabaikanku, David Andreas!" jerit Marlina, air mata frustrasi mulai menggenang di sudut matanya, bukan karena takut, melainkan karena rasa sakit hati yang tera
Leer más