"Crottt! Kena kau!" Suara tawa lepas memenuhi sudut kafe yang tadinya mencekam itu. Marlina mematung, matanya berkedip tidak percaya saat air dari pistol mainan itu mengalir deras membasahi wajahnya, menetes dari ujung hidung hingga membasahi kerah kemeja seragamnya. Lelaki muda di hadapan mereka yang baru saja terlihat mengancam nyawa, kini terpingkal-pingkal sambil memegang perut. Edward, yang sedetik lalu menunjukkan aura predatornya, justru mendengus kasar sembari menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi yang sangat lelah. "Leo, kau benar-benar tidak pernah berubah sejak kita di Eropa," ujar Edward dengan nada jengkel yang dibuat-buat. Marlina menghela napas panjang, mencoba meredam denyut amarah di pelipisnya. Dengan gerakan kaku, ia mengusap wajahnya yang basah kuyup menggunakan punggung tangan, lalu meraih tisu yang disodorkan Edward dengan kasar. "Apakah anda puas, Tuan?" tanya Marlina dingin, menatap tajam ke arah pria bernama Leo itu. "Oh, ayolah! Wajahmu tadi
Read more