"Buka mulutmu, Edward. Jangan banyak protes," ujar Marlina, menyodorkan sesendok bubur hangat tepat di depan bibir pria itu. Edward yang kini sudah bisa duduk bersandarkan tumpukan bantal di ranjang rumah sakit, mendengus pelan namun tetap menerima suapan tersebut. "Bubur ini sama sekali tidak ada rasanya. Kau sengaja ingin menyiksaku, Marlina?" "Ini rekomendasi dari ahli gizi rumah sakit, Tuan Edward Mahesa yang terhormat," sahut Marlina, senyum tipis terukir di wajahnya yang kini tampak jauh lebih segar. "Lagipula, lihat dirimu sekarang. Pakaianmu sudah berganti, bukan?" Edward melirik gaun rajut berwarna krem lembut yang melekat pas di tubuh Marlina. Beberapa hari yang lalu, saat kondisinya mulai stabil, perintah pertama yang keluar dari mulut Edward bukanlah soal saham Mahesa Corp, melainkan menyuruh Rendra mengosongkan satu butik mewah untuk membelikan pakaian wanita terbaik bagi Marlina. "Kau terlihat jauh lebih hidup dengan pakaian itu," gumam Edward, matanya menatap lekat
더 보기