"Maafkan ayah, sayang.." Setelah Aluna, Arkan kini meminta ampunan pada putrinya. Anak cantiknya yang sedang tertidur lelap. Wajahnya yang tampak pucat kini telah memerah karena mendapatkan cinta dari darah ayahnya. Arkan mengusap perut anaknya yang terluka. Dengan lembut, Arkan meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya. Selama hampir tiga tahun, Arkan melewatkan hari-hari dimana ia bisa menimang, menggendong hingga bermain dengan putra putrinya. Dan selama itu pula, Arkan digerogoti oleh penyesalan. Hatinya terluka. Jiwanya hampa. Ia kehilangan hampir seluruh nyawanya ketika Aluna dan kedua anaknya pergi meninggalkannya. Namun, Arkan tak mau menyalahkan keputusan Aluna. Apa yang terjadi adalah salahnya. Salah Arkan yang lebih perduli pada wanita lain dibanding darah dagingnya sendiri. Dari bilik kaca, Aluna mengintip Arkan yang tengah
Read more