登入"Arkan?" Dahi dokter pria muda yang berjaga di IGD ini sampai mengernyit. Ia melihat dengan seksama rekam medis yang ada di tangannya.
"Bukannya pasien ini baru saja dirawat inap?" Tanyanya pada perawat. "Iya, dok. Tapi kemarin pasien ini pulang atas permintaan sendiri. Itu juga tertulis kalau pasien baru saja mendonorkan darah." "Astaga! Apa yang pasien ini pikirkan?" Dokter pria ini lalu masuk ke tirai dimanAluna menatap pria itu dengan lekat. Aamir yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Aluna sadar jika perhatian yang Aamir berikan padanya bukan karena hubungan mereka di masa lalu sebagai ipar dan sepupu. Melainkan karena hal lain. Aamir ingin mengembangkan ini ke hubungan yang lebih lanjut. Dan Aluna paham akan itu. "Seorang pria yang lebih tulus dan bisa menerimamu juga anak-anakmu." Sambung Aamir. Aluna menghela nafas panjang. "Aku paham kekhawatiranmu, mas. Tapi aku bisa mengurus diriku dan anak-anak dengan baik. Jangan khawatir." Aluna tersenyum menenangkan. "Dengan memilih Langit?" "Apa aku punya pilihan lain?" Tanya Aluna balik. Giliran Aamir yang menghela nafas panjang. Pria ini menatap dengan lekat. "Aluna.. sebenarnya aku menyukaimu."
"Maaf mengecewakan kalian. Tapi saya dan Aluna akan segera menikah." Semua orang terkejut. Para orang dewasa ini menatap pria yang baru saja melontarkan ucapannya dengan lantang seakan tanpa beban. Pria itu mengatakannya dengan mantap. Sejak tadi dia berdiam sambil mendengarkan ucapan satu keluarga ini. Hingga akhirnya satu kalimat itu mulus meluncur dari mulutnya, semua orang menjadi terbungkam. Arkan pun sampai ikut kehilangan kata-katanya. "Kamu akan menikah dengan Aluna?" Tanya Farah tak percaya pada pria bertubuh tinggi tegap ini. Langit tersenyum tipis pada nyonya cerewet. "Iya. Saya dan Aluna akan menikah tahun ini. Sebab itulah saya meminta kalian berhenti mencecarnya dengan permintaan rujuk." Astaga! Mata Aluna sampai melotot mendengar ucapan Langit. Padahal Ditha yang mengalami kecelakaan kenapa Langit yang menderita amnesia? F
Seharian Arkan berusaha mendekatkan dirinya pada Ditha. Ayah anak ini memberikan senyum manis hingga perhatian yang luar biasa. Sedikit demi sedikit Ditha mulai terbiasa akan kehadiran Arkan. Anak ini sudah bisa membalas senyuman. Dia juga ikut menjawab dongeng yang diceritakan Arkan. Aluna pun hanya bisa melihat kedekatan mereka dari jauh. Malam menjelang, Langit datang lagi. Sekarang ditemani oleh Sinar yang memang sedang bekerja di shift sore. Saat pria itu datang.. yang menarik perhatian Arkan adalah anak kecil yang berada di genggaman Langit. Yaitu, Abi. "Ibu!" "Sayang!" Aluna merentangkan tangan dan menerima Abi yang berlari ke pelukannya. Padahal baru satu hari tak bertemu tapi Abi seperti satu tahun merindukan ibunya. "Kamu sudah makan, sayang?" Aluna melepaskan pelukannya. "Sudah, bu. Di
"Arkan?" Dahi dokter pria muda yang berjaga di IGD ini sampai mengernyit. Ia melihat dengan seksama rekam medis yang ada di tangannya. "Bukannya pasien ini baru saja dirawat inap?" Tanyanya pada perawat. "Iya, dok. Tapi kemarin pasien ini pulang atas permintaan sendiri. Itu juga tertulis kalau pasien baru saja mendonorkan darah." "Astaga! Apa yang pasien ini pikirkan?" Dokter pria ini lalu masuk ke tirai dimana Arkan berbaring. Disana ada pria lain yang menungguinya. "Pak Arkan. Saya sarankan rawat inap lagi. Anda mengalami tukak lambung tapi nekat sekali mendonorkan darah. Apalagi kondisi anda yang sangat lemah!" Gerutu dokter tersebut. Mendengar itu, Arkan membuka matanya. Ia lalu menggeleng. "Saya tidak mau dirawat lagi, dokter. Tolong berikan saya suntik vitamin saja." "Tapi perut anda sedang bermasalah.."
"Maafkan ayah, sayang.." Setelah Aluna, Arkan kini meminta ampunan pada putrinya. Anak cantiknya yang sedang tertidur lelap. Wajahnya yang tampak pucat kini telah memerah karena mendapatkan cinta dari darah ayahnya. Arkan mengusap perut anaknya yang terluka. Dengan lembut, Arkan meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya. Selama hampir tiga tahun, Arkan melewatkan hari-hari dimana ia bisa menimang, menggendong hingga bermain dengan putra putrinya. Dan selama itu pula, Arkan digerogoti oleh penyesalan. Hatinya terluka. Jiwanya hampa. Ia kehilangan hampir seluruh nyawanya ketika Aluna dan kedua anaknya pergi meninggalkannya. Namun, Arkan tak mau menyalahkan keputusan Aluna. Apa yang terjadi adalah salahnya. Salah Arkan yang lebih perduli pada wanita lain dibanding darah dagingnya sendiri. Dari bilik kaca, Aluna mengintip Arkan yang tengah
"Tunggu sebentar. Aluna akan tetap disini!" Tegas Langit. Langkah Arkan langsung terhenti. Dia menoleh dan menatap pria yang sedang memandangnya tajam. Pria itu memberikannya atapan permusuhan. Padahal Arkan belum tahu siapa pria yang sejak tadi duduk di sisi mantan istrinya. "Dia harus disini menjaga anaknya." Sambung Langit. Arkan menatap Aluna dengan getir. Sementara wanita itu tak mau membalas tatapannya. "Aku hanya ingin meminta waktumu sebentar saja, Aluna.." ucap Arkan. Tak ada nada paksaan dari pria itu membuat Aluna akhirnya mengalah. Ia pun mengangguk dan bangkit berdiri. Wanita ini lalu mengikuti Arkan dari belakang. Keduanya menuju area luar rumah sakit. Tepatnya di sebuah taman yang berada di daerah belakang instalasi rawat inap anak. Ada meja dan kursi yang terpajang disana. Arkan lalu mengajak Aluna duduk saling berhadapan. Arkan menatap lekat wajah
"Kita pisah saja, mas. Silahkan kamu kembali pada mantan kekasihmu."Arkan melesatkan pendengarannya. Matanya menatap tak percaya. Mulut itu separuh terbuka. Tidak. Ini tidak mungkin istrinya yang berani mengatakan itu.Tapi setelah melihat betapa seriusnya Aluna memandang, Arka
Aluna menatap wanita itu dengan datar seolah pemandangan tersebut sudah biasa dilihatnya. Ia lalu memusatkan perhatiannya lagi pada penjual yang sedang membuat pesanannya. Sedangkan Nindi yang berbicara begitu enteng main memutar tubuhnya dan menuju ke arah mobil Arkan yang terparkir.Da
Brakk!!!Seorang anak kecil menjerit. Asih yang sedang menyapu halaman langsung melempar sapunya dan masuk ke dalam rumah.Tiba di ruang keluarga, Asih mendengar suara Cindy yang menangis di dalam kamar. Dengan inisiatif tinggi, Asih masuk ke dalam dan menemukan Cindy yang terja
"Enak ya bisa santai-santai disini dan ninggalin pekerjaan rumah!" Selorohnya sebal. Aluna tertunduk saat melihat siapa yang datang. Sementara Fiona langsung menyilangkan tangannya di dada. Cukup mudah menemukan apartement anaknya ini. Arkan pernah menyebu







