"Arkan, mari sarapan.." tegur Fiona lembut.Tak ada lagi nada marah, wajah ketus yang suka memerintah. Semakin bertambah usia, Fiona berusaha untuk menjadi bijaksana.Dia sadari sikap tamaknya di masa lalu. Dimana ia yang merasa paling hebat selalu menindas orang lain yang dianggap kecil olehnya. Tapi rupanya tingkah lakunya itu terbayar kontan dengan perpisahan anaknya. Dan Fiona sangat menyesali itu.Arkan tak menjawab. Dengan wajah mendung, ia mengambil tempat duduk di hadapan Fiona. Satu iris roti bakar ia taruh di atas piring dan di makannya perlahan."Malam ini ada makan malam di rumah om Brastya, kamu pasti ingat, kan?"Arkan mengangguk."Setelah dari rumah sakit, nanti kita baru ke rumah om Bras. Semua keluarga kita berkumpul disana." Sambung Fiona menatap putranya.Arkan tak bergeming. Setelah menyantap satu iris roti, ia menghirup tehnya. Setelah itu, Arkan masuk ke kamar lagi."Anak itu.." Fiona mengg
Read more