Aru berdiri membeku di depan pintu itu, Jantungnya masih berdetak keras akibat lorong panjang yang dipenuhi foto-foto Bisma. Namun sekarang ada hal lain yang membuat napasnya terasa berat.Suara ayahnya, dan suara Paman Adrian, Bersama, Di tempat yang seharusnya tidak ada.Gerry bergerak sedikit di depan Aru, naluri melindunginya muncul otomatis. Namun Aru mengangkat tangan pelan.“Tidak.”“Nona...”“Aku masuk sendiri.”Paman Dion menghela napas panjang, Ia tahu tidak ada yang bisa menghentikan Arunika saat perempuan itu sudah mengambil keputusan. Perlahan Aru mendorong pintu, engsel tua itu mengeluarkan bunyi lirih.Ruangan di baliknya jauh berbeda dari lorong yang suram, Hangat, tenang. Bahkan ada aroma kopi yang masih tersisa di udara, Seperti seseorang baru saja duduk di sana beberapa menit lalu.Di tengah ruangan berdiri seorang pria berambut putih yang sangat dikenalnya, Tubuh Aru langsung menegang, Semua kemarahan yang selama ini ditahan, kerinduan, kehilangan, Seketika bercamp
Last Updated : 2026-06-04 Read more