Moncong pistol itu masih menempel tepat di dahi Reyhan. Dingin logamnya membuat rahang laki-laki itu menegang samar, tetapi egonya masih terlalu besar untuk mundur. Tatapan matanya tetap tajam menantang Bisma meski napasnya mulai kasar.Gudang tua itu sunyi, Hanya suara hujan dan ombak dari luar yang terdengar samar bercampur aroma karat, mesiu, dan darah tipis dari sudut bibir Bisma yang masih robek. Lampu gantung di atas kepala mereka bergoyang pelan tertiup angin laut, menciptakan bayangan bergerak di lantai beton yang lembap.“Aku akan mengurus perceraianmu dengan Arunika.” Suara Bisma rendah, dan Stabil.Tetapi justru itu yang membuat ancamannya terasa jauh lebih nyata, Tatapan Reyhan langsung berubah keras. “Dia masih istriku.”Bisma tersenyum tipis, Lalu perlahan ia menekan pistol itu sedikit lebih kuat ke dahi Reyhan.“Ingat baik-baik.”Tatapannya tajam seperti pisau sekarang.“Aku telah membeli hidup Arunika.”Kalimat itu jatuh pelan di antara mereka.“Dan semua masalahmu.”R
Last Updated : 2026-05-23 Read more