Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak kepulangannya ke Indonesia, Arunika terlihat sedikit lebih tenang, Bukan karena rasa sakitnya sudah hilang, Bukan karena ia sudah menerima kehilangan ayahnya sepenuhnya. Namun karena semalam, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur tanpa terbangun oleh mimpi buruk.Tidak ada lorong rumah sakit, suara monitor, dan bayangan darah yang menghantuinya. Hanya suara ayahnya yang terus terngiang.Jangan berhenti hidup, Aru.Kalimat itu menjadi satu-satunya alasan yang membuatnya membuka mata pagi ini. Arunika berdiri di depan cermin kamar masa kecilnya, Ia memandang dirinya sendiri cukup lama. Perempuan yang menatap balik dari cermin itu masih sama, Tetapi ada sesuatu yang berbeda.Dulu ia selalu melihat seseorang yang hancur.Sekarang Ia mulai melihat seseorang yang sedang berusaha bertahan, Pintu kamar terbuka perlahan Viktor berdiri di sana."Kau sudah bangun."Arunika menoleh "Iya."Viktor memperhatikan wajahnya "Kau tidur lebih baik?"Aru
Leer más