"Bibi, ini ponsel baru untuk Bibi," ucap Arunika sambil menyodorkan benda itu. "Tolong jangan hubungi siapa pun, ya. Cukup simpan dan gunakan hanya jika ada keadaan darurat."Bi Lina mengangguk pelan, menerima ponsel itu dengan wajah cemas namun tetap patuh. "Baik, Nyonya. Aku mengerti."Rumah kecil yang baru saja dibeli Arunika itu tiba-tiba digetarkan ketukan di pintu keras namun teratur, memecah kesunyian sore yang hening.Bi Lina menoleh cepat. "Nyonya… siapa yang datang?"Arunika bangkit perlahan, berjalan tenang menuju pintu. "Buka saja, Bibi. Itu temanku."Pintu terbuka. Di ambang pintu berdiri seorang pria berperawakan tegap dengan senyum tipis yang penuh selidik."Nyonya Arunika…" suaranya rendah namun jelas. "Bagaimana kabarmu? Kau terlihat makin cantik… dan makin bersinar, setelah menjadi Nyonya Megantara."Arunika tidak tersenyum. Ia menyingkirkan pintu sedikit lebih lebar."Masuk, Yogo. Jangan banyak basa-basi," ucapnya tegas tanpa menoleh. "Aku memintamu datang untuk sa
Leer más