"Viktor, kau membuatku sulit bernapas.""Aku hanya memelukmu.""Pelukanmu terlalu erat."Viktor langsung melonggarkan lengannya. "Maaf."Arunika menoleh, menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil. "Kau benar-benar berubah.""Bagaimana?""Dulu kau tidak pernah meminta maaf secepat ini."Viktor mengangkat alis. "Karena dulu aku belum tahu istriku sedang membawa anakku."Arunika spontan menyentuh perutnya. Belum ada perubahan yang terlihat, tetapi sejak mengetahui kehamilannya, setiap kali tangannya menyentuh sana, ada kehangatan yang sulit dijelaskan."Kau bahagia?"Viktor menatapnya. "Sangat.""Takut?""Juga."Arunika tersenyum. "Setidaknya kau jujur.""Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang baik."Arunika menggeser tubuhnya mendekat. "Kau akan belajar.""Kalau aku salah?""Kita belajar bersama."Viktor terdiam, lalu mencium keningnya lembut. "Baik."Hari-hari berikutnya berubah menjadi sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan. Rumah yang dulu dipenuhi penjaga dan laporan kini lebi
Ler mais