Siera terengah-engah setelah akhirnya menghentikan ayunan balok kayu di tangannya.Dadanya naik turun dengan keras, sementara rambutnya yang rapi sejak awal pesta kini mulai berantakan. Lengannya masih terasa nyeri akibat pukulan yang diterimanya sebelumnya, tetapi rasa sakit itu tidak lagi seberapa dibandingkan kemarahan yang sejak tadi memenuhi dadanya.Di hadapannya, Clarisse, Roseth, dan para wanita lainnya berada dalam keadaan yang jauh dari kata anggun. Mereka terduduk di atas rumput dengan wajah pucat dan mata sembab.Beberapa di antaranya bahkan masih menangis sambil memegangi bagian tubuh yang terkena pukulan. Tidak ada lagi senyum mengejek atau tatapan merendahkan seperti sebelumnya. Yang tersisa hanyalah rasa takut dan penyesalan yang datang terlambat.Siera memandangi mereka beberapa saat. Anehnya, setelah semua itu selesai, ia tidak merasa senang. Ia juga tidak merasa menang.Perlahan pandangannya terangkat. Di antara kerumunan orang yang diam membeku, matanya langsung me
Read more