LOGINAku seharusnya mati setelah memilih akhir paling tragis karena muak dengan pengkhianatan suamiku dan kebencian ayahku. Sial! Mengapa aku hidup lagi? Jika takdir ingin membunuhku sekali lagi, maka kali ini… aku yang akan menghancurkannya terlebih dulu.
View MoreSiera masih mengingat perkataan Roseth beberapa saat yang lalu. Wanita itu begitu yakin bahwa Grand Duke Rurich tidak akan pernah kembali hidup-hidup, Roseth tetap menunjukkan senyum penuh keyakinan seolah-olah kenyataan sudah berada sepenuhnya di pihaknya.Namun kali ini, Siera justru tersenyum. Ia menoleh kepada Roseth yang masih berdiri tidak jauh darinya."Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi."Roseth menatapnya. Senyum di wajah wanita itu perlahan melebar, tetapi bukan karena ia setuju. Ada sesuatu yang hampir menyerupai rasa geli di matanya."Sepertinya sekarang kau tidak punya banyak pilihan lain."Siera mengernyit."Apa maksudmu?"Roseth mengangkat bahu ringan. "Kau bisa saja menikahi Putra Mahkota lagi."Siera terdiam sesaat sebelum terkekeh kecil. Entah karena ucapan itu terdengar begitu tidak masuk akal baginya atau karena ia benar-benar tidak menyangka Roseth masih menganggap kemungkinan tersebut ada."Aku tidak akan menikah dengannya."Roseth mengangkat alis."Pert
Hari berikutnya,Perjalanan menuju istana terasa jauh lebih berat daripada yang Siera bayangkan. Sejak kereta meninggalkan Kastil Elvorn dan memasuki jalan utama menuju pusat ibu kota, Siera hampir tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya duduk di dekat jendela sambil memandangi kota yang perlahan berubah semakin ramai di hadapan matanya.Namun semakin dekat mereka menuju istana, semakin aneh perasaan yang muncul di dalam dirinya. Kota itu tidak terlihat seperti sebuah ibu kota yang baru saja menerima kabar kekalahan perang.Jalan-jalan utama dihiasi dengan kain-kain mahal dan bendera Kekaisaran. Lambang kerajaan berkibar di antara bangunan-bangunan besar, sementara bunga-bunga segar dipasang di sepanjang jalan menuju istana. Para pelayan kota bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk memastikan semuanya terlihat sempurna.Begitu megah dan begitu indah, membuat Siera memandangi semua itu dalam diam. Seolah seluruh ibu kota sedang mempersiapkan perayaan besar. Seolah pasukan Kekaisaran
Hari-hari berlalu tanpa perubahan. Siera lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kastil karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Bahkan Elois tidak berhasil mendapatkan kabar dari Rurich.Pagi itu, Siera duduk di dekat jendela ketika Yelian masuk ke kamarnya. Kakaknya berhenti beberapa langkah darinya dan memandang Siera dalam diam."Mau sampai kapan kau seperti ini?"Siera akhirnya menoleh."Seperti ini bagaimana maksudmu?"Yelian menghela napas pelan."Kau mengurung diri."Siera mengerutkan kening."Aku tidak mengurung diri.""Kalau begitu, apa yang kau lakukan selama beberapa hari terakhir?""Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan."Yelian menatapnya dan Siera kemudian mengalihkan pandangan kembali ke luar jendela."Aku sudah mencoba mencari informasi.""Aku sudah bertanya kepada orang-orang yang mungkin tahu.""Dan hasilnya tetap sama."Ia tersenyum tipis, tetapi tidak ada kegembiraan di sana."Jadi sekarang aku harus melakukan apa?"Yelian terdiam beberapa saat.
Kereta Elois tiba di Kastil Rurich saat sore hari. Para penjaga dan pelayan segera menyambutnya, tetapi Elois langsung melihat Siera yang sudah menunggu di depan kastil.Sejak berita kematian Dior tersebar, Siera terlihat semakin murung. Ia masih berusaha terlihat tenang, tetapi pikirannya jelas terus mencari jawaban dan menunggu kepastian tentang Dior.Begitu Elois turun dari kereta, Siera langsung mendekatinya."Saya dengar Anda pergi ke istana."Elois mengangkat pandangannya dan menatap Siera selama beberapa saat, lalu akhirnya mengangguk."Ya."Siera mengerutkan kening."Kenapa?"Elois tidak segera menjawab. Ia justru memandang ke arah pintu besar kastil yang berdiri di belakang Siera. Beberapa pelayan terlihat sengaja menjaga jarak, memberi mereka ruang untuk berbicara tanpa harus mendengar percakapan tersebut.Barulah setelah beberapa detik, Elois berkata pelan, "Karena bagaimanapun aku harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."Siera menatapnya."Bukankah sudah jelas?"Eloi
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore