LOGINAku seharusnya mati setelah memilih akhir paling tragis karena muak dengan pengkhianatan suamiku dan kebencian ayahku. Sial! Mengapa aku hidup lagi? Jika takdir ingin membunuhku sekali lagi, maka kali ini… aku yang akan menghancurkannya terlebih dulu.
View More“Hah… hah…”
Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.
Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau.
Derap langkah terdengar dari luar, berat dan tidak terburu-buru, namun tak terelakkan. Siera menutup mata sejenak. Ia selalu tahu suara langkah milik siapa itu.
“Kau melarikan diri ke kamarmu setelah membunuh orang, Siera?”
Suara berat sedingin es itu menggema, memotong keheningan.
Siera berbalik perlahan. Di ambang pintu berdiri seorang lelaki dengan pedang terhunus, para pengawal berjajar di belakangnya. Tatapannya tajam, tanpa sedikit pun keraguan.
“Kau harus dihukum mati, Siera Elvorn de Verzent!”
Suara Duke Dregory Elvorn, Ayahnya sendiri menggema.
Tatapan itu… tidak berbeda dari tatapan yang selalu ia terima sejak kecil. Dingin, keras dan tanpa sedikit pun kehangatan. Seolah ia bukan darah dagingnya, melainkan musuh yang harus disingkirkan.
Ingatan Siera berputar.
Beberapa saat lalu di puncak menara. Wajah pucat selir kaisar dan perdebatan panjang yang tak menemukan akhir. Lalu tubuh wanita itu melangkah mundur.
Dan jatuh.
Siera masih ingat suara tubuh itu menghantam batu. Ia bahkan tidak sempat berteriak. Tidak sempat meraih. Tidak sempat melakukan apa pun.
Wanita itu melompat sendiri, namun kini… ia yang dituduh membunuh.
“Siera!”
Suara itu menariknya kembali.
Ia menatap lelaki di depannya, lelaki yang ia panggil ayah. “Jika aku bilang aku tidak membunuhnya… apakah Ayah akan percaya?”
Suaranya lirih begitu rapuh. Sebuah harapan kecil yang bahkan ia sendiri tahu takkan pernah terwujud.
Dregory menyeringai tipis. “Maksudmu dia melompat sendiri?”
Siera tidak menjawab, karena rasanya tidak berguna.
“Jangan bicara omong kosong!” Kata-kata itu jatuh seperti pisau, begitu tajam dan dingin.
Sudut bibir Siera perlahan terangkat, senyum kecil yang nyaris tak terlihat muncul. Sejak kapan lelaki itu pernah mempercayainya?
Baginya, Siera hanyalah noda. Putri yang selalu mempermalukan dan beban yang tak pernah ia inginkan. Dan di atas segalanya… ia adalah bangsawan yang patuh pada kaisar sebelum menjadi seorang ayah.
“Ikut aku dan terima hukumanmu.”
Langkah Siera bergerak mundur. Satu langkah, lalu satu lagi. Hingga punggungnya hampir menyentuh pembatas balkon. Angin malam meniup rambutnya, gaun panjangnya berkibar pelan.
Raut wajah Dregory berubah.
“Berhenti, Siera!” Nada suaranya tidak lagi setegas tadi. “Jangan lakukan hal bodoh!”
Siera tertawa pelan. Tawa kecil yang terasa pahit di dadanya sendiri.
Ia menatap ayahnya lama seolah ingin mengingat wajah itu untuk terakhir kalinya. Wajah lelaki yang tak pernah sekalipun membelanya.
“Ini akan menjadi kali terakhir kau melihatku melakukan hal bodoh.”
Angin malam berembus pelan. Untuk sesaat, ia menatap mereka semua. Ayahnya, para pengawal, dan pria yang pernah ia cintai.
Lalu ia melangkah mundur dan tubuhnya terlepas dari balkon.
“Siera!”
Dunia seolah melambat saat ia jatuh. Ia masih sempat melihat wajah ayahnya yang berubah kacau.
Lalu—
Brak!
“Siera!”
Siera terbangun dengan tersentak. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat, dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
“Hah… hah…”
Ruangan itu sunyi. Furnitur mewah yang familiar menyambut pandangannya.
Ia mengedarkan mata dengan gelisah, menatap setiap sudut kamar, seolah takut sesuatu akan muncul kembali. Namun tidak ada apa-apa.
“Hah…”
Siera tiba-tiba bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan cepat menuju cermin besar di sudut ruangan. Pantulan dirinya terlihat utuh. Tidak ada luka. Tidak ada darah.
Ia menatap bayangan itu lama. Matanya bergetar, tidak percaya.
Dengan gerakan tergesa, ia berbalik dan meraih kalender di atas nakas. Jemarinya gemetar saat membalik halaman. Saat melihat tanggal dan tahun yang tertera, tubuhnya langsung membeku.
Napasnya tertahan dan Siera tahu ia tidak mati. Dan ini bukan mimpi. Ia benar-benar kembali ke masa sebelum kematiannya sendiri.
Namun bukannya lega, dadanya justru terasa sesak. Ia tidak ingin mengulang semuanya pengkhianatan, kebencian, dan akhir tragis yang sudah ia pilih sendiri. Takdir yang mengembalikannya terasa seperti ejekan.
Tangisnya pecah membuat bahunya bergetar dan napasnya tersengal. Isakannya memenuhi ruangan yang sunyi.
Brak!
Pintu kamarnya terbuka keras.
Siera tersentak dan menoleh. Matanya yang basah membelalak saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
“Ayah…?” suaranya nyaris tak terdengar.
Dregory menatapnya tajam, alisnya berkerut melihat putrinya menangis tak terkendali.
“Mengapa kau menangis seperti itu?”
Siera terdiam. Ucapan itu terasa menusuk. Bukan hanya merendahkannya, tapi juga mengingatkannya pada kenyataan yang tidak bisa ia bantah.Untuk sesaat, ia tidak berkata apa-apa. Ia masih bisa merasakan tatapan Dior tertuju padanya, seolah menunggu reaksinya. Namun Siera tidak ingin menunjukkannya. Ia memaksa dirinya tetap tenang.“Tidak ada yang tidak tahu hubungan saya dengan ayah saya,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan namun jelas. “Namun… Anda tetap tidak seharusnya berbicara seperti itu pada saya, Yang Mulia.”Erick menatapnya, jelas tidak senang. “Apa hakmu melarang aku berbicara apa pun, Siera Elvorn?”Siera menarik sudut bibirnya. Senyum kecil yang nyaris tak terlihat. Padahal matanya mulai terasa panas. Air matanya tergenang, hampir jatuh. Namun ia menahannya.Sudah cukup. Ia tidak ingin terlihat lemah lagi. Semua kebodohan yang ia lakukan dulu tidak pernah membawanya ke mana pun. Sekarang, ia tidak akan menunjukkannya lagi.Dari belakang, Clarisse merangkul lengan Erick denga
Suasana di antara mereka mendadak terasa berat. Siera menahan napasnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, namun wajahnya tetap tenang. Jadi dia tahu… atau dia sengaja mengatakannya untuk melihat reaksinya.Namun Siera tetap menatapnya datar. “Saya tidak mengerti maksud Anda, Yang Mulia.”Dior tersenyum tipis, seolah tidak percaya pada kepura-puraannya. Tatapannya tajam, seperti sedang menguji.“Benarkah? Padahal kau berdiri cukup dekat saat itu.”Siera mengalihkan pandangan. Ia menahan emosinya.“Jika Anda datang hanya untuk mengatakan hal yang tidak masuk akal, saya rasa tidak perlu membuang waktu.”Dior menatapnya beberapa detik. Lalu sudut bibirnya terangkat, jelas mengejek. Siera bisa merasakannya. Dadanya mulai panas, namun ia tetap berdiri tenang.“Aku rasa ini hanya trik lainmu,” ucap Dior santai.Siera menatapnya lagi. “Trik apa maksud Anda, Yang Mulia?”“Jika bukan untuk menarik perhatian kekasihmu,” lanjutnya pelan, “aku rasa kau sedang mencoba menarik perhatian ayahmu.”Sie
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandangan kedua lelaki itu tertuju padanya. Tatapan mereka tidak biasa, tajam dan penuh penilaian."Saya undur diri terlebih dahulu," Siera kembali membungkuk kemudian segera berbalik, lalu menjauh dari tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi.Mia mengikuti di belakangnya, ragu-ragu, tak berani memanggil atau menghentikannya.Sesampainya di kamar, Siera membuka pintu dengan cepat lalu menutupnya keras.Brak!Ia berdiri di balik pintu. Tubuhnya perlahan merosot hingga ia terduduk bersandar di sana. Air matanya tumpah tanpa bisa ia tahan. Tangisnya pecah, namun ia menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar keluar.Di kehidupan itu… dan di kehidupan ini… sama saja. Ayahnya tetap membencinya. Bahkan
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh ke arah Dregory, lalu kembali menatap Erick. Tatapannya tenang, namun ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan.“Saya ingin pernikahan kita dibatalkan,” ucapnya jelas, tanpa ragu.Keheningan langsung menyelimuti ruangan.Lalu Erick terkekeh.Suara tawa itu terdengar ringan, namun cukup untuk menarik perhatian semua orang. Mereka menoleh ke arahnya, termasuk Siera yang ikut memperhatikan dengan sedikit kewaspadaan.“Ini trik lain untuk menarik perhatianku?” tanyanya, nada suaranya penuh ejekan.Siera tidak bergeming.“Tidak. Saya serius, Yang Mulia Pangeran.”Tawa Erick justru semakin jelas.“Hahaha… Duke, putri Anda sekarang benar-benar pintar berakting,” katanya sambil menggeleng pelan.“Ka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.