Share

KEMATIAN

Author: suciradewi
last update publish date: 2026-10-12 09:10:25

Bara membuka matanya lalu setelah sempat pingsan ketika mobil yang dikemudikannya masuk ke dalam sungai di bawah jurang.

“Rima! Rima!” teriak Bara sambil berenang ke tepian sungai.

“Rima! Rima!” Bara menyusuri tepian sungai dengan langkah pincang. Kepala, wajah, dan tubuhnya penuh darah akibat terkena pecahan kaca mobil.

Bara kembali pingsan karena kehabisan banyak darah. Dua orang warga yang tak sengaja melintas menelepon ambulans. Bara dibawa ke rumah sakit terdekat.

“Ada mobil masuk jurang!”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   KEMATIAN

    Bara membuka matanya lalu setelah sempat pingsan ketika mobil yang dikemudikannya masuk ke dalam sungai di bawah jurang.“Rima! Rima!” teriak Bara sambil berenang ke tepian sungai.“Rima! Rima!” Bara menyusuri tepian sungai dengan langkah pincang. Kepala, wajah, dan tubuhnya penuh darah akibat terkena pecahan kaca mobil.Bara kembali pingsan karena kehabisan banyak darah. Dua orang warga yang tak sengaja melintas menelepon ambulans. Bara dibawa ke rumah sakit terdekat.“Ada mobil masuk jurang!” salah seorang warga berlari ke arah sungai.“Sepertinya orang ini adalah korban kecelakaan mobil itu,” keduanya mendekat ke tubuh Bara yang tergeletak di pinggir sungai.“Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Dia sudah meninggal,” ujar salah satu orang yang memeriksa denyut nadi Bara.Kabar soal kecelakaan Bara masuk dalam berita harian televisi. Bu Tika tercengang melihat mobil serta identitias korban bernama Barli.“Bara!” Bu Tika segera bergegas pergi ke rumah sakit kepolisian.Di rumah sakit,

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   JALAN BARU

    “Sekarang, semuanya ibu serahkan sama kamu. Tolong jangan berbuat hal nekat lagi, Bara! Setidaknya kasihani Rima. Hidupnya sudah sangat menderita,” ujar Bu Tika sebelum pergi.“Aku ingin menikahi Rima, Bu,” ungkap Bara.“Menikah?” Bu Tika tercengang. Ia menatap lekat mata Bara.“Kau yakin, Nak?” tanya Bu Tika lirih.“Aku sangat yakin, Bu. Satu-satunya wanita yang ku cintai hanya Rima. Tolong siapkan semuanya, Bu,” pinta Bara.“Tapi tidak sekarang, Bara. Rima baru saja melahirkan dan ia juga baru saja ditalak. Ada masa tunggunya. Saran ibu, sebaiknya kamu fokus pada kepulihan Rima, Nak,” ujar Bu Tika sebelum pergi.Bara masuk ke dalam kamar Rima. Di atas ranjang, Rima masih memejamkan matanya.“Bagaimana kondisinya, Suster?” tanya Bara dengan wajah sendu.“Belum ada perubahan, Pak. Kondisi pasien masih lemah. Dokter memberinya vitamin melalui infus. Semoga, kondisinya jauh lebih baik,” jawab suster yang merawat Rima.Bara membuka ponselnya. “Bara, dimana Rima? Dia bersamamu ‘kan?” tany

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   MENIKAH

    Bara menatap wajah pucat Rima yang terbaring di atas ranjang. Tangan Rima diinfus.“Seandainya kamu menikah denganku. Hidupmu pasti akan jauh lebih bahagia. Kenapa kamu menyukai pria yang mudah diperdaya?” “Dokter, bagaimana kondisi Rima?” tanya Bara pada dokter pribadi keluarga Bu Tika.“Kondisinya saat ini sudah mulai membaik. Sudah tidak terjadi pendarahan, namun tubuh pasien masih sangat lemah,” ungkap Dokter Bastian.Bara mengehela napas lega.“Bara, bukankah sudah waktunya kamu jujur pada Bu Tika?” ucap Dokter Bastian.“Saya belum siap, Dokter. Saya tidak mau ibu sedih,” jawab Bara dengan suara lirih.“Baik, saya akan tetap merahasiakannya,” bisik Dokter Bastian.“Terima kasih, Dokter,” Bara tersenyum.“Bara!” Bu Tika yang baru saja tiba langsung membentak Bara.“Saya permisi,” pamit Dokter Bastian.“Bu, jangan di sini. Rima butuh banyak istirahat,” Bara menggandeng tangan Bu Tika.Bu Tika menuruti Bara. Mereka bicara di ruang tamu vila pribadi Bu Tika yang merupakan tempat tin

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   BEKAS LUKA

    “Bagaimana mungkin, Bara sudah meninggal,” Rima tak mempercayai ucapan Bara.“Oh, aku paham sekarang. Ini semua rencana busukmu ‘kan Kak? Kamu memanipulasi semuanya untuk memfitnahku!” Rima membentak Alda, ia sudah tak tahan diperlakukan tidak adil.“Dek, kamu tega menuduhku seperti itu? Kamu harusnya merasa bersalah. Bukannya melempar kesalahanmu pada orang lain. Apalagi pada kakakmu sendiri,” Alda menangis.“Sudahi semua sandiwara ini, Kak. Aku sudah muak!” Rima tersenyum sinis.“Ini bukti kalau aku memang Bara,” Bara menunjukkan foto-foto kebersamaan mereka dulu.Rima masih tak mempercayainya.“Ini, bekas luka ketika aku menolongmu,” Bara menunjukkan bekas luka di lengan kirinya.Rima berusaha mengingatnya. “Bekas luka itu, ketika aku hampir saja tertimpa pot dari lantai dua sekolah.”“Ini hasil tes DNA yang membuktikan sepenuhnya bahwa aku Bara.”“Gak mungkin! Kalau kamu memang masih hidup kenapa kamu harus merahasiakannya?” Rima semakin sesak menerima kenyataan tentang Bara.“Cuk

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   ORANG YANG SAMA

    Olin membereskan semua barang-barangnya. Ia Menyusun barang-barang pribadinya di rumah masa kecilnya.“Bertahun-tahun aku merantau ke ibu kota demi menyembuhkan trauma atas kematian Kak Cika. Kini, aku justru kembali ke rumah ini karena gagal dalam misi itu. Mirisnya, orang yang membuatku terluka adalah orang yang berjanji untuk membuatku sembuh dari trauma,” Olin mengusap air matanya.Olin memajang kembali foto-foto dirinya dengan sang kakak di tembok dan juga meja. Meski diiringi deraian air mata. Olin bertekad untuk kuat.“Kata orang jika kita ingin sembuh dari luka maka kita harus mampu menahan rasa perihnya ketika luka itu kita oleskan obat. Aku pasti bisa melalui semuanya. Membuka lembaran baru di rumah lama.”Hary terus menghubungi Olin namun nomor kontaknya kini sudah diblokir.“Sosial mediaku juga diblokir?” Hary tertunduk lemas sambil menatap layar ponselnya. Olin tertidur pulas setelah merapikan barang-barangnya. Tiba-tiba ia merasakan tetesan air di wajahnya.“Hujan? Ata

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   MENGHILANGNYA BARA

    Sejak Rima menolak cintanya, Bara terlihat murung. Bara juga terus menghindari Rima. Bahkan saat perjalanan study tour ke Bali, Bara menukar posisi duduknya di bus dengan Ivan.“Van, bisa tukar kursi gak?” pinta Bara.“Bara? Tumben banget ini orang mau bersuara,” gumam Ivan. “Van? Boleh ‘kan?” Bara menyelipkan uang pecahan serratus ribu sebanyak tiga lembar ke tangan Ivan.Ivan beranjak dari kursinya dan pindah ke kursi belakang.“Oke!” Ivan mengacungkan kedua jempolnya.“Hai, Rima!” sapa Ivan dengan senyum lebar.“Van, kayaknya lu salah kursi. Ini kursinya Bara,” Rima menunjuk nama yang tertempel pada kursi.Ivan menukar kertas tempelan berisi nama yang tertempel di kursi Bara dengan miliknya.“Nah, sekarang kursi ini jadi tempat gue ‘kan?” Ivan dengan santai menduduki kursinya.“Tapi, Bara,” kata Rima.“Bara yang minta kami tukar kursi. Mungkin dia malu karena lu tolak cintanya,” bisik Ivan sambil menahan tawa.Bara yang duduk di depan kursi Rima bisa mendengarnya namun memilih acu

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   BENIH CINTA

    “Ada masalah apa, Al? Kenapa kamu kelihatan bingung? Riko di mana?” tanya Fandi yang baru saja datang.“Riko? Katanya mau ke toilet. Kalian gak ketemu?” sahut Alda sambil menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.“Oh, enggak. Kamu kenapa? Ada apa?” tanya Fandi.“Aku baru sadar kalau pembayaran

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   TALAK AKU, MAS!

    “Gak ada apa-apa, Kak. Aku hanya gak mau momen manis kalian terganggu nantinya,” sahut Rima segera. Ia teringat ucapan dokter soal kondisi psikis Alda yang harus tetap dijaga.“Oke, berarti kamu setuju untuk ikut ya. Aku butuh kamu, Rima. Kamu tahu sendiri kondisiku. Kakiku lumpuh,” ujar Alda denga

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   PERNIKAHAN RESMI

    PERNIKAHAN RESMIAlda sudah diperbolehkan pulang sejak satu minggu lalu. Kini, ia tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya minggu depan. Gaun pengantin yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari begitu menyayat hatinya.“Kak, gaun pengantinnya cantik sekali. Aku gak sabar melihat kakak mengenak

  • AKU ISTRI PERTAMA TETAPI AKULAH GUNDIKNYA   PERNIKAHAN RAHASIA

    "Saya terima nikah dan kawinnya Rima Kania Putri dengan mas kawin tersebut. Tunai," suara lantang Fandi memecah keheningan.‎"Sah," sahut dua orang saksi dan penghulu yang ada dalam ruangan apartemen.‎Air mata Rima menetes ketika penghulu mulai membaca doa usai ijab qobul. Rasa bahagia, sedih, jug

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status