Di samping kanan raja, permaisuri tidak mengatakan apa pun. Wanita itu duduk dengan ekspresi keruh. Telinganya memanas, kesal setengah mati karena Meifeng berhasil memikat tiga orang pangeran sekaligus. Bisa-bisanya, pikirnya merasa jengkel sekaligus iri. “Bagaimana jika ada pelamar lain?” tanya raja, terdengar mengeluh. “Mungkin akan lebih baik jika aku mengadakan sayembara untuk mendapatkan calon pendamping Meifeng.” “Bukankah sekarang sudah terlambat untuk itu?” Ibu suri mengingatkan dengan bijak. “Jangan khawatir, putrimu pasti bisa memilih calon pendampingnya dengan hati-hati. Anda hanya perlu mengarahkannya saja agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Anda harus menjaga kesehatan Anda, Yang Mulia.” Raja Bai menganggukkan kepala. Ucapan ibu suri memang benar, tapi tetap saja itu tidak membuatnya tenang. Ia menekuk keningnya dalam saat Liwei beranjak dari kursinya dan meminta izin pergi. “Kau mau kemana, Putra Mahkota?” “Menyusul Meifeng,” jawab Liwei, tanpa ekspresi. “
Last Updated : 2026-06-07 Read more