Share

BAB 81. RASA BERSALAH

last update Tanggal publikasi: 2026-06-02 10:57:51

Pagi ini, Selir Keempat datang menemui permaisuri. Wanita itu memohon agar wanita yang berkuasa penuh atas harem istana melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Pangeran Liang. “Huanghou¹, mohon bantu hamba. Pangeran Liang akan sangat menderita terkurung di Istana Timur. “Mohon Yang Mulia Permaisuri berwelas asih!” pintanya, seraya bersujud di hadapan Permaisuri Wen Ju.

“Jangan bersujud!” ucap permaisuri. Suara napasnya terdengar berat. Yang dilakukan oleh Pangeran Liang sudah sangat keterlaluan.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 183. RACUN DI BALIK JAMUAN

    Kepulangan Pangeran Liwei seharusnya membawa sedikit ketenangan ke kediaman Putri Meifeng. Namun, pada kenyataannya suasana justru terasa semakin tegang. Semua mata seperti tertuju ke satu arah yang sama. Para pejabat memperlihatkan sikap penuh hormat di depan, tapi di belakang siapa yang tahu?Malam ini, Liwei baru saja selesai membersihkan diri ketika Deming datang membawa beberapa laporan dari istana. Dongmei sudah menunggunya di ruang utama. Di atas meja terdapat teh yang mulai dingin dan beberapa kudapan, nyaris tidak disentuh."Aku ingin mendengar semuanya dari awal,” kata Liwei saat berjalan memasuki ruang kerjanya. Penghangat ruangan sudah dinyalakan, mengusir rasa dingin dari dalam ruangan.Sementara Putra Mahkota duduk di belakang meja kerjanya, Dongmei bersandar pada kursinya sendiri. Ekspresi wanita itu sangat tenang. "Dari kematian Tao Tao?”“Ya, kau bisa memulainya dari sana," balas Liwei. Saat Dongmei terdiam, Deming menutup pintu lalu berdiri sedikit jauh dari kedua tu

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 181. KEPULANGAN PUTRA MAHKOTA

    Suasana musim gugur masih menyelimuti wilayah Kerajaan Bai Yun. Di balik awan gelap, matahari mengintip, bersembunyi malu-malu. Suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan, meninggalkan debu beterbangan di belakangnya.Walau siang ini mendung, gerbang utama ibu kota masih dipenuhi aktivitas seperti biasanya. Para pedagang masuk dan keluar membawa serta kereta-kereta berisi hasil bumi dari daerah sekitar.Para prajurit dengan seragam militer Kerajaan Bai Yun berjaga di kedua sisi gerbang. Saat salah satu penjaga yang bertugas di atas benteng melihat panji-panji kerajaan berkibar di kejauhan, dia segera memberi isyarat. Tidak lama berselang terdengar suara terompet panjang.Dalam sekejap para penjaga berdiri tegak sementara rombongan besar pasukan berkuda semakin mendekat. Panji-panji kerajaan berkibar di tengah barisan. Kuda-kuda perang bergerak dalam formasi rapi.“Pasukan kerajaan!” Seruan seorang penjaga membuat orang-orang di sekitar gerbang segera menepi sedangkan seorang praj

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 180. RENCANA PERDANA MENTERI

    Sekembalinya ke istana, Dongmei berjalan ke sudut taman paviliunnya. Berdiri di dekat pagar pembatas, wanita itu memandang jauh. Malam sudah cukup larut, di selatan, terlihat percikan kembang api menghiasi langit. Kembang api itu diluncurkan dari Kediaman Menteri Perang, sebagai salah satu rangkaian acara."Yang Mulia, udara sangat dingin. Sebaiknya Anda masuk ke dalam." Suara Zihai terdengar dari arah belakang. Pria itu dan saudaranya tidak mengikuti acara di Kediaman Menteri Perang hingga selesai karena tuan mereka pulang lebih awal."Besok, aula pertemuan pasti akan sangat ramai." Tersenyum kecil, Dongmei merobek keheningan yang sempat menggantung di udara. Suara binatang malam perlahan meramaikan suasana. Benar saja, kabar mengenai kejadian di kediaman Menteri Perang tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai istana. Malam bahkan belum terlalu larut sepenuhnya ketika seorang pengawal kerajaan menyampaikan laporan kepada Raja. Dengan sangat jelas prajurit itu melaporkan pertarung

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 179. BERBALIK ARAH

    Suara tawa di ruang pesta bangsawan pria masih terdengar. Semakin lama, suara Guo Han terdengar semakin keras dan anehnya tidak ada yang memberinya peringatan. Daun-daun maple di taman berguguran, angin bertiup, terasa kering.Saat Dongmei memasuki ruangan pesta, para bangsawan pria di dalam ruangan itu terbelalak. Kesunyian langsung memenuhi udara. Guo Han yang berlum menyadari kehadiran Dongmei masih menuang minuman ke dalam cawannya. Dia hendak bicara omong kosong lagi, tapi seorang pemuda di samping kirinya segera menyikut keras sisi perutnya.Guo Han menoleh, menatap ke arah yang ditunjuk oleh temannya tadi. Percakapan di antara para pemuda itu perlahan berhenti, digantikan oleh perasaan was-was.Di sisi lain, Tuan Wang sebagai tuan rumah tidak bisa menahan kegelisahannya. Sejak sadarkan diri dari usaha bunuh diri, Putri Meifeng tidak bisa ditebak jalan pikirannya. Terkadang wanita itu bisa mengambil sikap sangat tegas dan membuat jantung seperti berhenti b

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 178. SUARA DARI RUANGAN SEBELAH

    Raja Bai Feng memiliki banyak putra dan putri dari Permaisuri dan Selirnya. Namun, beliau memperlakukan Putra Mahkota Liwei secara khusus, begitu pun dengan Meifeng. Sejak sang Putri nyaris tewas karena bunuh diri, Raja memperlakukannya lebih baih bahkan terkesan istimewa.Para pejabat untuk mengambil hati keluarga istana seringkali bertindak sebagai pion anggota keluarga kerajaan. Undangan pesta yang dikirim ke istana diantar dengan hati-hati. Menyinggung anggota keluarga kerajaan, sama dengan mencari mati. Karena itu Dongmei yakin ada undangan untuk Putri Meifeng. Jika undangan itu tidak diterimanya, pasti ada seseorang yang tidak mau dia datang ke pesta para pejabat.Siang ini, Dongmei hadir bersama beberapa dayang dan pengawal. Zixin dan Zihai yang sudah datang terlebih dahulu bergegas ke halaman depan untuk menyambut kedatangan tuannya. Hari ini Dongmei mengenakan hanfu berwarna merah tua dengan bordir bunga anggrek dan burung hong berwarna keemasan di bagian leng

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 177. UNDANGAN YANG TIDAK PERNAH SAMPAI

    Sebelum pulang ke kediaman masing-masing, Zixin dan Zihai bicara terlebih dahulu dengan Dongmei di ruang kerja sang putri. Keduanya berdiri di depan meja kerja, sementara Dongmei terlihat sibuk menulis sesuatu di atas lembaran kertas kosong yang terbuka di atas meja.Tulisan wanita itu terlihat sangat rapi dan tegas, sedikit ada kemiripan dengan gaya menulis Putra Mahkota. Menyelesaikan tulisannya di atas kertas, masih belum mengatakan apa pun Dongmei menggulung kertas tersebut, memasukkannya ke dalam sebuah tabung kayu kecil, lalu mengikatnya dengan hati-hati sebelum diberikan kepada Zixin.Untuk sekarang, mereka tidak bisa bicara bebas karena tahu ada banyak mata yang tengah mengawasinya. Melepas napas panjang, Dongmei lalu berkata, “Apa ada kabar kapan kakakku akan kembali ke ibu kota?”Zixin menyembunyikan perkamen yang diberikan oleh Dongmei ke balik hanfu-nya. “Lapor Yang Mulia, jika tidak meleset, Putra Mahkota akan kembali ke i

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 54. PERTANDINGAN GULAT

    “Senang bisa bertemu denganmu lagi.”Dongmei tersentak, langkahnya terhenti, dia mengumpat kasar dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Huo Shan. Pria itu segera bergegas keluar dari aula setelah melihat Dongmei berjalan pergi. Huo Shan berjalan cepat, mengambil jalan lain untuk memotong hingga bis

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 53. BERTEMU KEMBALI

    Di Kerajaan Bai Yun, Pangeran Liang tidak bisa menyembunyikan kemarahannya setelah tahu jika Liwei membawa Meifeng serta ke Kerajaan Shan Huo. “Kenapa Pangeran Liwei lebih memilih membawa adik perempuannya?” bentaknya sembari menggebrak meja belajar, keras.Pangeran Da tidak bisa menjawab. Dia meny

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 48. PEDANG ANGIN

    Kedatangan Liwei dan Dongmei diserukan oleh seorang kasim penjaga Paviliun Naga. Di dalam ruang santai, Raja Bai menegakkan tubuh, tatapannya terarah lurus ke arah pintu yang terbuka lebar. “Dia sudah datang,” ucapnya kepada seorang tamu yang tengah duduk dengan membawa hadiah khusus.

  • Transmigrasi Sang Putri: Dari Terbuang Jadi Kesayangan   BAB 45. PERPISAHAN SEMENTARA

    Dongmei tersenyum tipis, pemilihan kalimat pria muda asing di sampingnya ini membuatnya terkejut. Alih-alih mengatakan ‘cantik’, dia memilih ‘menarik’ untuk menggambarkan sosok Meifeng. Tidak buruk, pikir Dongmei.“Aku berhutang ucapan ‘terima k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status