LOGINPasukan Huo Shan tidak berani menggunakan jalan utama saat ini. Walau pasukan yang menyerang Yang Han sudah dilumpuhkan, tetapi tidak ada seorang pun dapat memastikan apa masih ada kelompok lain yang menunggu di sepanjang perjalanan.Huo Shan sendiri membawa Yang Han di atas punggung kudanya. Tubuh kakaknya diikat menggunakan kain agar tidak terjatuh ketika kuda bergerak cepat. Setiap kali tubuh Yang Han bergeser, Huo Shan akan segera menahan bahunya. Saat ini wajah Yang Han bersandar di bahunya. Napasnya masih ada, meski sangat lemah. “Bertahanlah!” ucapnya serak. Huo Shan menggigit rahangnya, teringat kembali perpisahan mereka yang dipenuhi pertengkaran. “Kita hampir sampai.” Sebenarnya, Huo Shan tidak tahu kepada siapa sebenarnya ia sedang berbicara?Mungkin kepada Yang Han? Atau justru untuk dirinya sendiri?Di belakang mereka, beberapa prajurit membawa Aiguo yang terluka. Sebagian lainnya mengawal dari segala arah. Malam terasa terlalu panjang saat ini. Bahkan setiap suara ranti
Yang Han memang sudah menyadari rombongannya diawasi sejak beberapa hari lalu. Ia memberi perintah kepada Xing Yi untuk waspada. Kegelisahan putra mahkota, ternyata juga dirasakan oleh anak buahnya. Yang Han terus mengaduk-aduk makanan, tanpa melepaskan genggamannya dari pedang.Kegelisahan mereka memangterbukti, perkemahan kecil yang mereka tempati diserang oleh pasukan tidak dikenal. Yang Han bergerak lincah, menghindar dari setiap serangan yang diarahkan kepadanya secara membabi-buta.“Bunuh putra mahkota!” seru seorang pria dengan penutup sebagian wajah. Pertempuran kembali terjadi. Penyerang yang menyerang perkemahan putra mahkota terlihat semakin banyak. Yang Han bahkan sangat yakin jika penyerangnya bukan hanya berasal dari satu kelompok saja.“Cingcang tubuhn putra mahkota!” teriak kelompok lain membuat suasana semakin mencekam. Tawa keras menggema, memecah keheningan malam. Binatang khas malam yang biasanya ribut haru mengalah oleh suara ribut pedang yang saling beradu.Bau
Siang itu, Raja tiba-tiba saja sadarkan diri. Walau sulit, ia akhirnya bisa membuka mata dan melihat langit-langit kamar.Napasnya terdengar berat berat. Dadanya kembang kempis, tidak teratur.“Perdana Menteri?” Suara Raja terdengar serak, parau. Walau merasa haus, dia tidak meminta kasim atau dayang untuk membawakan air kepadanya.Seorang pelayan yang berjaga segera berlari keluar dan tidak lama kemudian, Perdana Menteri Zhong datang.“Yang Mulia.” Memasang ekspresi khawatir, Perdana Menteri berdiri di samping ranjang raja. Perdana Menteri sedikit menundukkan kepala sedangkanRaja menatapnya cukup lama.“Di mana Liwei?” tanya Raja pada akhirnya. Kepalanya berdenyut sakit, tapi ia tetap berusaha untuk bisa bicara.Menundukkan sedikit kepalanya, Perdana Menteri berkata, “Menjawab Yang Mulia, saat ini Putra Mahkota sedang menangani urusan pemerintahan.”“Panggil di
Perdana Menteri duduk di ambang jendela kayu ruang kerjanya yang mewah. Tatapannya tertuju lurus ke arah luar, menggigit kue manis mahal yang disiapkan pelayan untuk kudapan paginya. Uap teh panas mengepul dari dalam cawan, saat tengah melamun, pintu ruang kerjanya diketuk dari luar.Sebenarnya ia tengah menunggu berita penting, pagi ini. Sudah mengenakan pakaian resminya untuk menghadiri sidang pagi di istana, Perdana menteri Zhong mengizinkan seseorang yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya untuk masuk.Menerima laporan yang tidak ingin didengarnya, ekspresi Perdana Menteri Zhong langsung berubah, marah. Ia menggebrak permukaan meja kerjanya keras sembari menatap anak buahnya yang tengah melapor saat ini. “Bagaimana bisa kalian gagal?”Suara itu menggema, terdengar hingga ke lorong.Lima orang pria yang datang langsung berlutut di hadapan meja. Pakaian mereka masih kotor oleh tanah dan darah yang mengering. Tidak seorang pun be
Kabar mengenai Putri Meifeng yang meninggalkan istana menyebar cepat keesokan harinya. Kabar tersebut berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya hingga dalam waktu singkat, seluruh istana mengetahuinya.Desas-desus dimulai dari pertengkaran antara Putri Meifeng dan Putra Mahkota. Ada juga yang mengatakan jika sang putri sangat kecewa terhadap Raja yang menurutnya terlalu bias terhadap Selir Jing Fei hingga akhirnya eifeng memilih meninggalkan istana. Namun, yang paling sering dibicarakan adalah renggangnya hubungan Putra Mahkota dan Putri Meifeng. Akan tetapi di balik itu semua tidak seorang pun tahu bahwa semuanya memang sudah direncanakan.Beberapa jam sebelum Dongmei melarikan diri, ia secara sembunyi-sembunyi menemui Putra Mahkota di tempat yang aman, jauh dari intaian musuh. Tidak ada pelayan di dalam ruangan selain mereka berdua. Cahaya lilin berkedip, menerangi ruangan kecil yang dipenuhi oleh debu dan sarang laba-laba.“Apa kau yakin ingin melakukan ini?” tanya Liwei yang sebe
Dongmei berjalan menuju sebuah bangunan rumah kumuh dengan tubuh menggigil. Ia mendapati kuda dan barang-barang yang diperlukannya berada di dalam sebuah bangunan rumah, tempat tinggal anak-anak terlantar beberapa waktu lalu.Senyumnya terkembang tipis saat ujung jemarinya menyentuh permukaan kain. Setidaknya anak-anak itu memiliki rumah yang pantas untuk ditinggali dan makanan hangat setiap harinya. Itu pikirannya, tanpa tahu jika anak-anak itu telah tewas dibunuh oleh kaki tangan perdana menteri.Dongmei mengembuskan napas keras. Ia segera mengganti pakaian. Wanita itu tidak bisa berada di tempat ini terlalu lama karena yakin musuh sudah mulai mengepungnya. Dalam keheningan, Dongmei mengganti pakaian basahnya lalu mengenakan pakaian pria. Sebelum matahari terbit biasanya ada banyak pedagang yang meminta izin melewati pintu gerbang ibukota untuk menjual dagangannya di desa terdekat. Dongmei tengah berjudi saat ini. Pelariannya akan berjalan mulus jika penjagaan pintu gerbang ibukota
Dongmei tidak langsung menjawab. Tangannya menepuk-nepuk kursi kosong di sebelah kirinya, meminta tanpa kata kepada Liwei untuk duduk. Dalam diamnya wanita itu memutar otak keras. Dongmei harus bisa mengajak Liwei bekerjasama. Dia sangat yakin Nyonya Zi pasti tengah mengatur strategi untuk melawann
Di dalam hatinya, Nyonya Zi mempertanyakan kebenaran berita seputar Meifeng yang beredar luas selama ini. Wanita muda dihadapannya jelas tidak terlihat suram, sebaliknya, wanita muda itu memiliki kecantikan, keagungan dan pesona yang sulit untuk diabaikan.“Berani sekali kau tidak memberi salam kep
Zihao dan Zixin yang menyaksikannya hanya bisa membelalakkan mata. Mereka berlari ke arah Dongmei saat wanita itu sengaja menubrukkan tubuh ke penjahat yang tersisa hingga terkapar di atas tanah merah. Dongmei mendorong gadis remaja yang menjadi sandera ke sisi berlawanan untuk menghindari sabeta
Suara teriakan meminta tolong masih terus terdengar, disusul oleh suara tawa keras yang mengganggu. Kalimat-kalimat cabul diucapkan oleh para bandit. Dongmei menyipitkan mata. Sedapat mungkin tidak menoleh ke belakang. Dia tahu saat ini dirinya diikuti. Mungkin prajurit suruhan raja, karena rasany







