Malam itu, Roni berdiri terpaku di tepi rooftop, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulit wajahnya. Di balik kemejanya, Hati Bumi berdenyut, sebuah detak yang terasa sinkron dengan aliran darahnya, seolah benda pusaka itu sedang memperingatkan bahwa esok bukanlah hari biasa.Eldrin melangkah mendekat, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas beton yang mulai lembap oleh embun."Kau siap, Nak?" suaranya rendah. "Rencananya matang. Besok kita pecah menjadi dua. Kelompok utama akan memancing perhatian di gerbang depan, sementara tim kecilmu menyusup melalui celah dimensi untuk menghancurkan Artefak Jiwa."Roni memutar tubuh, menatap mata Eldrin dengan sorot yang lebih tenang dari yang ia rasakan di dalam hati."Aku yang memimpin tim kecil. Dewi, Shinta, dan Kirana akan bersamaku. Eldrin, kau pimpin serangan pengalih bersama Nenek Sinta. Safitri dan Lira, aku minta kalian tetap di sini, menjaga apartemen dan memastikan keselamatan Laila."Shinta, yang sedari tadi memperhatikan
Read more