Langit Jakarta di luar jendela griya tawang mulai berubah warna menjadi ungu kelabu, pertanda fajar akan segera tiba. Di dalam ruangan yang hancur berantakan, Arina masih telaten mengobati luka-luka Juno. Suasana begitu sunyi, hanya terdengar suara gesekan kapas dan napas mereka yang berat. "Juno," bisik Arina memecah keheningan. "Lihat aku." Juno perlahan mengangkat wajahnya. Mata emasnya meredup, menyisakan kesedihan yang sulit disembunyikan. "Kita masih bisa lari," lanjut Arina, suaranya bergetar namun penuh penekanan. Meski ada sedikit keraguan dan ketakutan dalam ucapannya. "Aku punya tabungan rahasia, aku punya koneksi untuk membuat paspor palsu dalam dua jam. Kita bisa ke Islandia, ke pedalaman Kanada, ke mana pun di mana bulan tidak akan menemukan kita. Aku bersedia meninggalkan semua ini—popularitas, karier, film—semuanya. Aku hanya ingin kamu hidup." Juno meraih tangan Arina yang memegang kapas, menggenggamnya dengan lembut namun kuat. "Arina, dengarkan aku. Jika kit
Read More