Apartemen Arina adalah sebuah istana kaca di lantai empat puluh lima. Semuanya tampak minimalis, dingin, dan terlalu rapi untuk tempat yang disebut rumah. Namun, bagi Juno yang kini berada dalam wujud seekor kucing persia abu-abu, tempat ini terasa seperti labirin raksasa yang penuh dengan bahaya—terutama bahaya kehilangan harga diri. Arina meletakkan Juno dengan lembut di atas sofa beludru berwarna krem. "Tunggu di sini ya, Mochi. Nama kamu sekarang Mochi, oke? Karena kamu terlihat seperti gumpalan ketan yang menggemaskan," ucap Arina sambil mencubit pelan pipi berbulu Juno. Juno ingin memprotes. Mochi? Benar-benar nama yang tidak memiliki wibawa sama sekali, batinnya. Ia adalah pria yang dilatih untuk mematahkan leher lawan dalam hitungan detik, bukan untuk menjadi camilan manis. Namun, saat ia mencoba menggeram, yang keluar hanyalah suara purring rendah karena tangan Arina mulai mengusap area di belakang telinganya. Sial, insting kucing ini benar-benar pengkhianat.
Read more