Pagi di Amalfi tidak pernah terasa begitu mencekam bagi Juno. Meskipun aroma lemon dan laut menyegarkan udara, indra penciumannya yang tajam menangkap aroma lain. Bau logam dingin dan bubuk mesiu yang samar, sekitar dua kilometer dari vila mereka. Musuh semakin dekat, namun Arina masih berjuang dengan tubuh barunya yang sering kali tidak sinkron dengan pikirannya yang kosong. Di halaman belakang yang tersembunyi, Juno berdiri dengan posisi siaga. Matanya yang keemasan berpendar redup, pupilnya memanjang menjadi garis vertikal tipis—ciri khas predatornya yang paling murni. "Siena, fokus," ucap Juno lembut namun tegas. "Jangan gunakan pikiranmu untuk menggerakkan energi itu. Bayangkan kau adalah bagian dari angin ini. Jangan dilawan, ikuti alirannya." Arina berdiri di hadapannya, peluh membasahi keningnya. Ia mencoba memusatkan energi perak di telapak tangannya, namun yang keluar hanyalah percikan kecil yang segera padam. Sudah beberapa kali ia mencobanya sesuai arahan Juno tapi
Read more