Pagi itu, Kastil Valois diselimuti kabut tebal yang seolah enggan beranjak, mencerminkan suasana hati penghuninya. Lucien Ashford De Valois berdiri di depan pintu kamar istrinya selama hampir dua jam sebelum fajar menyingsing. Ia tidak mengetuk, tidak pula memanggil. Ia hanya berdiri di sana, menatap kayu ek yang kokoh itu dengan perasaan hancur yang belum pernah ia rasakan, bahkan di medan perang paling berdarah sekalipun.Namun, ketika pintu itu akhirnya terbuka, yang muncul bukanlah Celina yang sembab atau wanita yang penuh amarah.Celina melangkah keluar dengan gaun pagi berwarna kuning gading yang cerah. Wajahnya segar, riasannya sempurna, dan ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya—senyum yang terlihat sangat manis, namun tidak mencapai matanya yang hijau zamrud."Selamat pagi, Lucien," sapa Celina dengan nada suara yang ringan, seolah-olah drama berdarah di taman istana tadi malam hanyalah mimpi buruk yang sudah dilupakan. "Kau berdiri di sini sejak tadi? Kau terlihat lel
Last Updated : 2026-04-22 Read more