Keributan di ruang pribadi itu segera diredam oleh pengawal istana, namun suasana di aula besar belum sepenuhnya tenang. Celina berdiri tegak, merapikan gaunnya yang terkena debu kristal. Ia menatap Kael yang diseret pergi, lalu beralih pada Lucien. Pria itu masih memegang pedang, napasnya belum teratur. "Lucien, simpan pedangmu. Kau sedang berada di dalam istana, bukan di medan perang," bisik Celina, meski matanya menatap tajam ke arah pintu masuk, di mana Elara berdiri dengan wajah pucat yang tampak dibuat-buat. Elara berlari kecil mendekati mereka, mengabaikan ketegangan yang masih tersisa. "Lucien! Ya Tuhan, aku mendengar suara tembakan. Apa kau terluka?" Lucien meletakkan pedangnya kembali ke sarung, namun ia tidak menyambut tangan Elara yang hendak memegang lengannya. "Aku baik-baik saja, Elara. Sebaiknya kau pergi dari sini. Situasi tidak aman." Celina melipat tangannya di dada, memperhatikan interaksi tersebut. "Menarik sekali melihat betapa khawatirnya kau, Elara. Padahal,
Read more