“Ariyan, kamu dengar Mama nggak? Tolong buka pintunya dulu!” Zelena mengulangi dengan suara lebih keras lantaran tidak ada sahutan dari dalam sana.Entah apa yang dilakukan anaknya di dalam. Hari-hari belakangan Ariyan jarang di rumah. Kalaupun ada, ia lebih sering mengurung diri di kamar. "Ariyan! Sebentar aja. Mama nggak mau ganggu kamu, tapi ini penting!" "Masuk, Ma. Pintunya nggak dikunci." Akhirnya terdengar sahutan dari dalam. Pintu pun Zelena buka, memperlihatkan sosok Aryan yang sedang bermain gitar. Pria itu hanya mengenakan celana pendek tanpa mengenakan baju. Zelena mendekat dengan langkah tergesa-gesa. Melihat gurat kepanikan di wajah ibunya, dahi Ariyan berkerut halus. Ia menegakkan posisi duduknya dan berhenti memetik senar. "Ada apa, Ma? Kenapa muka Mama cemas?" “Mama memang cemas. Barusan Mami mertua kamu nelepon–” “Mantan, Ma,” koreksi Ariyan cepat. “Iya mantan,” ulang Zelena. “Katanya Kai sakit pas lagi pipis terus pipisnya nggak mau keluar. Setelah diba
Terakhir Diperbarui : 2026-06-13 Baca selengkapnya