Zivanya mengernyitkan dahi, menatap Ariyan dengan tatapan bingung. “Kenapa harus Zevia?” tanyanya ingin tahu.“Karena aku ingin,” jawab Ariyan santai kemudian menadahkan tangannya. “Mana handphone kamu?”Zivanya terpaksa memberikan benda itu pada Ariyan kemudian mendengarkan suaminya itu menelepon.“Halo, Kak Ziva.”Zivanya bisa mendengar suara Zevia karena Ariyan menyalakan speaker.“Via, ini aku, bukan Ziva.”“Eh, B-bang Ari, maaf, Bang, aku pikir Kak Ziva.”Entah ini perasaan Zivanya saja, tapi ia bisa merasakan Zevia yang sedikit grogi.“Ada apa ya, Bang? Ada yang bisa aku bantu?” tanya Zevia kemudian, suaranya terdengar berusaha keras untuk kembali normal dan santun di seberang sana.Ariyan berdeham, melirik Zivanya sekilas sebelum kembali fokus pada speaker ponsel yang menyala di tangannya."Via, urusan kamu udah selesai semua apa belum?" "Udah kok, Bang. Ini aku baru mau keluar kantor. Kenapa, Bang Ari?"Mendengar jawaban gadis itu, Ariyan langsung menyampaikan maksudnya
Zuletzt aktualisiert : 2026-06-07 Mehr lesen