“Paaa, handphone kamu bunyi nih,” beritahu Zivanya dari depan meja rias. Ia sedang mengaplikasikan skincare ke wajahnya, sedangkan Ariyan memandikan anak mereka. “Siapa yang nelepon?” sahut Ariyan dari kamar mandi yang terbuka. “Lawyer kamu.” “Kok tiba-tiba?” “Ya mana aku tahu.” “Coba deh kamu jawab dulu.” Zivanya pun menjawab panggilan tersebut. Ia juga menyalakan loudspeaker. “Halo, selamat sore, Pak.” “Selamat sore, Ibu Ziva ya?” “Iya, Pak, Ariyan lagi mandiin anak kami. Ada apa ya, Pak?” “Wah, Pak Ariyan memang suami idaman ya, Bu,” puji sang pengacara diiringi tawa. Zivanya ikut tertawa kecil. Bersamaan dengan itu Ariyan yang sudah selesai memandikan Ariella muncul dan meletakkan anak tersebut di tempat tidur. Ia lalu memakaikan pakaian Ariella yang sebelum mandi tadi sudah disiapkan. “Begini, Bu, saya ingin menyampaikan berita mengenai Bu Aira.” Jantung Zivanya sontak bertalu-talu. Sementara Ariyan tidak terpengaruh. Ia tetap fokus memakaikan baju pada
Magbasa pa